Mimpi Memenuhi Kebutuhan Susu Segar Dalam Negeri


Rubrik: tentang | 2018-11-01


SSDN atau susu segar dalam negeri adalah istilah yang diberikan untuk susu segar yang dihasilkan oleh sapi perah peternak dalam negeri. Susu yang kita minum selama ini, adalah gabungan dari SSDN dan susu yang diimpor dari luar negeri.

Kenapa impor? Karena jumlah SSDN yang ada sekarang, belum bisa mencukupi kebutuhan produksi susu. Berdasarkan Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, sebagian besar ketersediaan susu dalam negeri dipasok dari susu impor (73,84%), sedangkan susu dari dalam negeri berkontribusi sebesar (26,16%). Kira-kira kenapa ya, hal ini bisa terjadi?

Dedi Setiadi dari GKSI (Gabungan Koperasi Susu Indonesia), dalam pemamparannya di Seminar dan Workshop Implementasi Kemitraan di Bidang Persusuan, ada beberapa kendala yang dihadapi peternak sapi perah yang menyebabkan kurangnya produksi SSDN, yaitu terbatasnya kepemilikan lahan, bibit yang berkualitas, dan modal peternak. Beberapa upaya yang telah dilakukan GKSI yaitu, bekerjasama dengan PERUM PERHUTANI dan PTPN untuk mendapatkan pakan hijau peternak, bekerjasama dengan perbankan untuk mempermudah peminjaman modal usaha.

Selain itu, untuk mendapatkan bibit yang unggul salah satunya diadakan kontes ternak sapi perah dan pembuatan akta kelahiran sapi. Tetapi, menurut Bapak Dedi, masih ada hal yang harus dilakukan kerjasama antara peternak, pemerintah dan IPS yaitu implementasi INPRES No. 2 Th 1985, INPRES No. 4 th 1998, dan Permentan No. 26 tahun 2017.

Fini Murfiani, selaku Direktur Pengolahan dan Hasil Pemasaran Ternak menambahkan, pemerintah juga berperan meningkatkan produksi dan kualitas susu dengan melakukan beberapa kebijakan, seperti melakukan kemitraan, menurunkan ketergantungan impor, meningkatkan populasi sapi perah, pemanfaatan SSDN rakyat bagi industri, melibatkan stekholder persusuan, ekspansi luar jawa dan meningkatkan konsumsi susu.

Selain itu, pemerintah juga bekerjasama dengan beberapa kementerian/lembaga seperti, Kementerian Perdagangan, Data Pusat Statistik, Kementerian Perindustrian, Badan POM, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Koperasi dalam rangka meningkatkan produksi dan konsumsi SSDN. Adanya kemitraan antara kelompok peternak, koperasi, dan IPS (Industri Pengolahan Susu)/importir dalam rangka peningkatan produksi SSDN, kualitas SSDN, populasi dan pengembangan usaha, maka kesejahteraan petenak pun akan meningkat.

penulis: deni | editor: david

Artikel Lainnya

  • Apr 05, 2019

    Revisi Grand Desain Sapi Potong

    Pemerintah bercita-cita bahwa di tahun 2045, Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia. Dimana komoditi sapi potong akan menjadi lumbung pangan Asia di tahun yang sama. Pernyataan perencanaan ini tertuang dalam Grand Desain Pengembangan Sapi Potong dan Kerbau 2045, yang dipublikasikan oleh Kementrian Pertanian pada tahun 2016 lalu. Dalam grand desaintersebut, disebutkan target-target dan asumsi-asumsi yang harus dipenuhinya. Pasalnya, jika asumsinya tidak dipenuhi maka dengan sendirinya progam tersebut tidak mungkin akan dijalankan.  ...

  • Apr 01, 2019

    Banjir Ayam Broiler

    Melimpahnya produksi ayam broiler (pedaging) menjadi salah satu indikator turunnya harga ayam broiler ditingkat peternak. ...

  • Apr 01, 2019

    Program Bekerja Menuai Hasil

    Program bantuan Kementerian Pertanian (Kementan) berupa ayam 1,4 juta ekor di Kabupaten Brebes tahun 2018 telah menuai hasil. Ayam tersebut sudah bertelur sehingga masyarakat telah merasakan manfaat yakni tambahan pendapatan. ...

  • Apr 01, 2019

    Pengusaha Pembibitan Unggas Dihimbau Pangkas Produksi 10%

    Pengusaha pembibitan unggas dihimbau untuk memangkas produksi DOC (Day Old Chick/anak ayam umur sehari) sebesar 10% untuk membantu mengatrol harga panen ayam broiler. ...

  • Mar 28, 2019

    Pasar Virtual Komoditi Hasil ternak

    Di era digital saat ini, telah terjadi perubahan mekanisme pasar, yang memporak porandakan pasar konvensional. Perubahan pola transaksi tukar fisik barang menjadi uang cashyang penuh dengan resiko, kini, berubah menuju pembayarannon tunai(cashless)melalui sistem aplikasi digital. Perubahan ini, telah pula mengubah tatanan perekonomian. Konsumen dan produsen dimanjakan, pedagang antara (middle man) rantainya dipotong, sistem transaksi dimudahkan, pembayaran aman, kualitas barang terjaga, keuntungan berlipat-lipat dan banyak lagi manfaat lainnya. Konsumen maupun produsen menerima harga pangan yang terjangkau dan relatif lebih murah, jika dibandingkan dengan era sebelumnya.  ...