Optimalkan Performa Budidaya Unggas Tanpa AGP


Rubrik: tentang | 2018-10-31


Budidaya perunggasan di Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan mulai dari cuaca yang tidak menentu, penerapan biotekuriti yang tidak optimal karena terdesak oleh pemukiman penduduk, bahan baku jagung yang terlalu banyak terkontaminasi mikotoksin, program vaksinasi unggas yang terlalu ketat, serta pelarangan penggunaan antibiotic growth promotor (AGP) yang berlaku sejak Januari 2018 lalu. 

Dalam sebuah sarasehan yang diselenggarakn oleh Perhimpunan Peternak Unggas Nasional (PPUN) di Bogor belum lama ini, Peneliti Balai Penelitian Ternak Budi Tangendjaja memaparkan tentang beberapa keputusan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia yang sangat mempengaruhi kinerja perunggasan nasional. Beberapa keputusan itu antara lain pengeluaran peraturan menteri sebagai tindak lanjut dari Undang-undang peternakan tahun 2007 yang menyatakan tentang pelarangan penggunaan hormon tertentu dan antibiotika dalam pakan. Keputusan selanjutnya yakni pelarangan pemakaian antibiotika dalam pakan, kecuali untuk pengobatan, penghentian impor antibiotika sebagai pemacu pertumbuhan, dan menggantinya ke dalam antibiotika untuk pengobatan. Adapun penggunaan antibiotika untuk pengobatan, hanya dilakukan dengan resep dari dokter hewan. Bagi pelaku usaha yang melanggar aturan yang telah diberlakukan tersebut, akan mendapat hukuman sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan

Pelarangan AGP dalam budidaya unggas, memberi dampak yang nyata antara lain produktifitas akan menurun, biaya pengobatan meningkat, peternak harus dibimbing untuk menggunakan antibiotik dengan benar, dan ongkos produksi menjadi meningkat. Hal ini disebabkan AGP sesungguhnya memiliki peran vital dalam sistem budidaya ayam ras. Cara kerja AGP yang vital tersebut yakni mampu menekan infeksi tingkat sedang, mengurangi produksi racun, mengurangi penggunaan nutrisi oleh bakteri, meningkatkan sintesa vitamin, menipiskan dinding usus -sehingga penyerapan zat nutrisi menjadi lebih baik, mengurangi produksi amoniak, serta mampu mengurangi stres kekebalan pada ayam.

Budi menjelaskan, ada beberapa alternatif pengganti AGP yang saat ini bisa diaplikasikan, yakni probiotik, asam organik, fitogenik, enzim, dan copper. Alternatif pengganti AGP itu prinsip kerjanya menyerupai AGP yakni untuk membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan ayam, terutama dari ancaman tiga mikroorganisme utama yang berbahaya, yakni emeria (koksidia) penyebab koksidiosis, clostridium yang menyebabkan necrotic enteritis, dan esscericia coli penyebab colibacilosis. Untuk dapat mendukung cara kerja dalam mendukung kesehatan saluran pencernaan tersebut, maka dari sisi produksi pakan, harus diseleksi bahan baku yang berkualitas, sanitasi di dalam pabrik pakan yang harus ketat, dan pengendalian kandungan mikotoksin yang bisa menyebabkan penurunan sistem kekebalan. Di samping itu, perlu dipilih juga bahan baku yang memiliki kecernaan tinggi, untuk mengurangi sisa nutrisi tak tercerna, yang bisa dipakai oleh mikroba usus. Formulasi pakan juga harus seimbang dengan kebutuhan ayam. Hal ini disebabkan jika terjadi kelebihan nutrisi dalam sistem pencernaan ayam, berisiko dimanfaatkan oleh mikroba merugikan dalam usus ayam.

Bagi kalangan pabrik pakan, untuk mencari alternatif pengganti AGP, disarankan untuk mendapatkan alternatif yang telah terbukti melalu penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal yang telah terakreditasi. Pengujian bahan yang akan dipakai juga sangat diperlukan. Hal itu perlu didukung juga pengujian yang dilakukan sendiri, dengan penelitian yang menggunakan metodologi yang benar, yakni dengan metode perancangan penelitian yang benar dengan ulangan yang cukup. Hal itu dimaksudkan agar kesimpulannya dapat dipercaya, dengan selang kepercayaan lebih dari 95%. Pengujian di lapangan menjadi tantangan tersendiri karena keragaman yang tinggi, sehingga penarikan kesimpulan dapat salah.

Penggunaan alternatif pengganti AGP juga harus mempertimbangkan manfaatkan ekonomi dan risiko yang dihadapi. Artinya, pemakaian suatu bahan pengganti AGP harus dihitung apakah memberikan nilai tambah terhadap hasil budidaya ternak dan resiko dalam proses pemeliharaan, pengarunhnya terhadap sistem kekebalan, dan sebagainya.

Saran bagi peternak

Peran alternatif pengganti AGP adalah untuk dapat mempertahankan kekebalan dan kesehatan usus ayam. Oleh karenanya, dalam pemeliharaan ayam, disarankan agar persiapan kandang dan litter sebelum anak ayam datang, harus benar-benar diperhatikan. Sebagai contoh, waktu istirahat kandang minimal 14 hari harus benar-benar dilaksanakan, sistem ventilasi yang tepat, kebersihan litter yang terjaga, tempat pakan yang cukup, dan ketersediaan air minum besih dan terjamin.

Lakukan juga pencegahan kontaminasi dan stres pada waktu pengangkutan day old chick (DOC), sehingga harus diperhatikan waktu perjalanan menuju kandang, truk DOC yang baik selama proses transportasi, serta proses penurunan DOC dari truk ke dalam kandang.

Pemberian pakan yang berkualitas juga harus menjadi perhatian tersendiri. Hal yang dapat dilakukan adalah pemilihan  baku pakan yang telah diseleksi yang telah memiliki kecernaan yang baik, formulasi rangsum yang seimbang, dan  meminimalkan kontaminasi mkikotoksin dan campuran sekam yang kerap ada dalam pembelian jagung sebagai bahan baku pakan. Pemberian pellet yang berkualitas dan juga memperhatikan kandungan jenis serat di dalamnya, sangat mempengaruhi kesehatan usus ayam. 

Saran lain yang harus diperhatikan untuk menjaga kekebalan dan kesehatan sistem cerna yakni program vaksinasi yang baik, serta pencegahan terhadap serangan koksi. Dalam hal air minum, jika tercemar bakteri e coli, akan memperparah terjadinya enteritis, sehingga sanitasi air minum harus benar-benar dijaga. 

Karena sudah tidak menggunakan AGP, maka harus ditingkatkan sistem biosekuriti yang lebih ketat secara struktural dan operasional. Kondisi ayam dalam kandang harus selalu diperhatikan, selalu amati perubahan kondisi ayam dalam kandang seperti pernafasannya, kotorannya, dans sebagainya. Juga harus diperiksa ayam-ayam yang mati, terutama saluran pencernakannya apakah terjadi masalah. Hal ini perlu dilakukan karena langkah pengobatan bisa dilakukan segera, sebelum terlanjur menjadi outbreak.

Dalam pemeliharaan ayam tanpa AGP, sebaiknya dimonitor secara seksama dalam satu hingga dua bulan ke depan, apakah terjadi insiden penyakit yang meningkat, dihitung pemakaian antibiotika untuk pengobatan suatu penyakit, dan ukur pula sistem kekebalan tubuh ayam yang menurun, yang bisa menyebabkan kegagalan program vaksinasi. 

Tantangan global perunggasan

Tidak hanya masalah mencari alternatif pengganti AGP yang tepat untuk ayam, tantangan perunggasan nasional lain yang dihadapi adalah ancaman serbuan daging ayam impor dari mancanegara pasca kekalahan Indonesia dalam sidang WTO. Untuk menghadapi hal itu, Budi Tangendjaja menyarankan kepada para peternak untuk tidak hanya melakukan efisiensi dan peningkatan skala usaha dalam suatu wadah bersama, namun juga pembelian sarana produksi ternak secara group atau kelompok. Disarankan juga untuk melakukan pembibitan ayam dan pembuatan pabrik pakan secara bersama-sama dalam satu kelompok, sehingga bisa menjadi lebih efisien dan lebih terjamin secara kualitas dan keberlanjutannya. Hal ini disebabkan ancaman akan serbuan daging impor tidak hanya datang dari Brazil, namun juga datang dari negara tetangga dalam wadah ASEAN, yakni Malaysia dan Thailand. Untuk menangkal serbuan impor daging ayam dan telur dari luar negeri tersebut, peternak harus senantiasa memperbaiki diri dalam menjalankan usahanya, dengan cara berkelompok, menjalankan usahanya dengan efisiensi tinggi, sehingga daya saing dapat ditingkakkan. Hal itu bisa dilakukan dengan cara membuat rencana besar jangka panjang yang disepakati bersama secara nasional, dan secara kompak dilaksanakan secara bersama-sama antara satu kelompok peternak dengan kelompok peternak lain dari berbagai daerah di Indonesia.  

artikel sudah dimuat di Majalah Infovet

penulis: andang | editor: david

Artikel Lainnya

  • Apr 05, 2019

    Revisi Grand Desain Sapi Potong

    Pemerintah bercita-cita bahwa di tahun 2045, Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia. Dimana komoditi sapi potong akan menjadi lumbung pangan Asia di tahun yang sama. Pernyataan perencanaan ini tertuang dalam Grand Desain Pengembangan Sapi Potong dan Kerbau 2045, yang dipublikasikan oleh Kementrian Pertanian pada tahun 2016 lalu. Dalam grand desaintersebut, disebutkan target-target dan asumsi-asumsi yang harus dipenuhinya. Pasalnya, jika asumsinya tidak dipenuhi maka dengan sendirinya progam tersebut tidak mungkin akan dijalankan.  ...

  • Apr 01, 2019

    Banjir Ayam Broiler

    Melimpahnya produksi ayam broiler (pedaging) menjadi salah satu indikator turunnya harga ayam broiler ditingkat peternak. ...

  • Apr 01, 2019

    Program Bekerja Menuai Hasil

    Program bantuan Kementerian Pertanian (Kementan) berupa ayam 1,4 juta ekor di Kabupaten Brebes tahun 2018 telah menuai hasil. Ayam tersebut sudah bertelur sehingga masyarakat telah merasakan manfaat yakni tambahan pendapatan. ...

  • Apr 01, 2019

    Pengusaha Pembibitan Unggas Dihimbau Pangkas Produksi 10%

    Pengusaha pembibitan unggas dihimbau untuk memangkas produksi DOC (Day Old Chick/anak ayam umur sehari) sebesar 10% untuk membantu mengatrol harga panen ayam broiler. ...

  • Mar 28, 2019

    Pasar Virtual Komoditi Hasil ternak

    Di era digital saat ini, telah terjadi perubahan mekanisme pasar, yang memporak porandakan pasar konvensional. Perubahan pola transaksi tukar fisik barang menjadi uang cashyang penuh dengan resiko, kini, berubah menuju pembayarannon tunai(cashless)melalui sistem aplikasi digital. Perubahan ini, telah pula mengubah tatanan perekonomian. Konsumen dan produsen dimanjakan, pedagang antara (middle man) rantainya dipotong, sistem transaksi dimudahkan, pembayaran aman, kualitas barang terjaga, keuntungan berlipat-lipat dan banyak lagi manfaat lainnya. Konsumen maupun produsen menerima harga pangan yang terjangkau dan relatif lebih murah, jika dibandingkan dengan era sebelumnya.  ...