Memacu Pembangunan Peternakan Kalimantan Barat


Rubrik: kegiatan | 2018-11-17


Kalimantan Barat merupakan daerah perbatasan darat dengan wilayah Serawak Malaysia, terutama daerah perbatasan di daerah Entikong. Provinsi ini juga menjadi pusat perdagangan lintas batas terutama terkait dengan kebutuhan bahan pokok antar penduduk kedua negara, di antaranya daging sapi, daging dan telur ayam ras untuk komoditas peternakan.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Sugiono dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia Cabang Kalimantan Barat di Pontianak, Sabtu (17/11). Besarnya potensi untuk pengembangan peternakan, menjadikan Kalimantan Barat menjadi salah satu provinsi yang cocok untuk tujuan investasi di bidang peternakan. 

Namun Sugiono mengingatkan tentang konsekuensi dari implementasi pemanfaatan Kalbar sebagai tujuan investasi, yakni perlunya pembangunan RPH yang terakreditasi (NKV khusus bagi unit usaha produk hewan), kompartemensialisasi farm dan breeding farm bebas AI (flu burung), memperkuat kelembagaan peternak agar berbadan hukum, melaksanakan Good Farming Practice (GFP), Good Breeding Practice (GBP), dan Good Manufacturing Practice (GMP). Konsekuensi lain yakni harus dilakukan penguatan sistem informasi terutama mekanisme pelaksanaan yang bersifat On Line Sistem. Pembenahan rantai pasok dari hulu, on farm, dan hilir termasuk pengolahan dan pemasaran, juga harus dilakukan, agar sesuai dengan persyaratan teknis negara pengimpor.

Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji, M.Hum yang diwakili oleh Anna Veridiana Iman Kalis, MP, Staf Ahli Gubernur Kalbar Bidang Pembangunan dan ekonomi menambahkan, Kalimantan Barat dengan populasi penduduk di angka 5.365.256 jiwa, angka indeks pembangunan manusia (IPM) cuma 66,26 %.

Konsumsi perkapita daging Kalimantan Barat masih sangat minim sekali sehingga wajar masih banyak ditemukannya stunting, gizi buruk, kurang berprestasinya anak-anak Kalimantan Barat di berbagai sektor, dan masih banyak lagi hal-hal buruk yang disebabkan oleh kurangnya konsumsi protein hewani seperti daging, telur maupun susu.

Fakta tersebut menjadi peluang besar bagi Kalimantan Barat untuk terus meningkatkan produksi daging, susu dan telur untuk dapat memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat -untuk dapat meningkatkan angka IPM sebagai salah satu indikator keberhasilan pembangunan daerah.

ispi

Artikel Lainnya

  • Apr 05, 2019

    Revisi Grand Desain Sapi Potong

    Pemerintah bercita-cita bahwa di tahun 2045, Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia. Dimana komoditi sapi potong akan menjadi lumbung pangan Asia di tahun yang sama. Pernyataan perencanaan ini tertuang dalam Grand Desain Pengembangan Sapi Potong dan Kerbau 2045, yang dipublikasikan oleh Kementrian Pertanian pada tahun 2016 lalu. Dalam grand desaintersebut, disebutkan target-target dan asumsi-asumsi yang harus dipenuhinya. Pasalnya, jika asumsinya tidak dipenuhi maka dengan sendirinya progam tersebut tidak mungkin akan dijalankan.  ...

  • Apr 01, 2019

    Banjir Ayam Broiler

    Melimpahnya produksi ayam broiler (pedaging) menjadi salah satu indikator turunnya harga ayam broiler ditingkat peternak. ...

  • Apr 01, 2019

    Program Bekerja Menuai Hasil

    Program bantuan Kementerian Pertanian (Kementan) berupa ayam 1,4 juta ekor di Kabupaten Brebes tahun 2018 telah menuai hasil. Ayam tersebut sudah bertelur sehingga masyarakat telah merasakan manfaat yakni tambahan pendapatan. ...

  • Apr 01, 2019

    Pengusaha Pembibitan Unggas Dihimbau Pangkas Produksi 10%

    Pengusaha pembibitan unggas dihimbau untuk memangkas produksi DOC (Day Old Chick/anak ayam umur sehari) sebesar 10% untuk membantu mengatrol harga panen ayam broiler. ...

  • Mar 28, 2019

    Pasar Virtual Komoditi Hasil ternak

    Di era digital saat ini, telah terjadi perubahan mekanisme pasar, yang memporak porandakan pasar konvensional. Perubahan pola transaksi tukar fisik barang menjadi uang cashyang penuh dengan resiko, kini, berubah menuju pembayarannon tunai(cashless)melalui sistem aplikasi digital. Perubahan ini, telah pula mengubah tatanan perekonomian. Konsumen dan produsen dimanjakan, pedagang antara (middle man) rantainya dipotong, sistem transaksi dimudahkan, pembayaran aman, kualitas barang terjaga, keuntungan berlipat-lipat dan banyak lagi manfaat lainnya. Konsumen maupun produsen menerima harga pangan yang terjangkau dan relatif lebih murah, jika dibandingkan dengan era sebelumnya.  ...