Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia siap dukung pembangunan peternakan nasional


Rubrik: berita | 2019-01-27



JAKARTA, 23 Januari 2019 – Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) periode 2018-2022 resmi dilantik Rabu (23/1). Acara pelantikan dihadiri oleh sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian Pertanian RI, diantaranya Sekretaris Jenderal Kementan, Syukur Iwantoro, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan, Sugiono serta kalangan dunia peternakan lainnya.

“Telah banyak lulusan sarjana bidang peternakan di Indonesia yang tersebar di seluruh Indonesia. Diharapkan para sarjana peternakan dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan peternakan nasional, sebagai kekuatan dalam negeri terutama dalam penyediaan pangan asal hewan dengan pemanfaatan sumber daya lokal”, ungkap Didiek Purwanto selaku Ketua Umum terpilih pada pelantikan kepengurusan ISPI periode 2018-2022 di Gedung Pusat Informasi Agribisnis Kementerian Pertanian (Rabu, 23/1).

Pada acara tersebut, dalam sambutannya, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan – I Ketut Diarmitra, yang dibacakan oleh Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Sugiono, juga menyampaikan hal senada, dengan mengajak seluruh insan sarjana peternakan melalui ISPI, untuk bersama-sama dan bahu-membahu bersama pemerintah dan para stakeholder peternakan lainnya, untuk mendukung pembangunan kemandirian pangan asal ternak.

“Saya yakin dan percaya ISPI mampu mengambil berbagai peran untuk meningkatkan pembangunan di sub sektor peternakan. Keanggotaan ISPI yang berasal dari berbagai elemen, seperti akademisi, birokrasi, dan praktisi pelaku usaha di berbagai komoditi yakni sapi, kambing, domba, unggas, pakan dan sapronak, dapat saling bersinergi antar elemen tersebut”, jelas Sugiono.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Syukur Iwantoro dalam arahannya pada acara pelantikan tersebut, juga mengharapkan agar ISPI dapat menjadi katalisator agar para lulusan sarjana peternakan dapat dengan mudah memperoleh pekerjaan, dengan mempertemukan lembaga sertifikasi kompetensi bagi sarjana peternakan dengan perguruan tinggi. Syukur juga mengingatkan agar ISPI dapat menghilangkan sekat-sekat dan berkolaborasi dengan lembaga terkait untuk memberikan kontribusi dalam pembangunan peternakan.

Syukur juga berharap agar ISPI dapat membangun penyediaan pangan asal hewan yang sehat dan terjangkau bagi masyarakat. “Hal ini mengingat ISPI memiliki network dari pusat hingga daerah” imbuhnya.

Setelah sukses menyelenggarakan Kongres ke XII di Malang, akhir tahun 2018 lalu, ISPI semakin merapatkan barisan antar anggotanya. Tak hanya pelantikan kepengurusan, namu digelar pula Rapat Koordinasi antarbidang dan kelembagaan ISPI, sebagai wadah dan bentuk kerjasama para Sarjana Peternakan di Indonesia yang bertujuan untuk memajukan, mengembangkan dan mengamalkan ilmunya dalam pembangunan nasional.

Diharapkan, ISPI dapat terus memajukan peternakan di Indonesia dan menjadi mitra bagi pemerintah dalam meningkatkan konsumsi protein hewani. Didiek Purwanto berharap, ISPI dapat menjadi tempat berkumpul, berdialog, bersosialisasi dan berinteraksi bersama bagi anggota para Sarjana Peternakan, sehingga dapat mengembangkan keahlian dan potensi setiap anggotanya. “Langkah awal yang telah dilakukan ialah pemutakhiran anggota dengan mendata jumlah anggota secara online,” jelasnya.

ISPI yang saat ini berusia setengah abad juga memiliki tugas yang sangat penting, yakni mengembangkan peternakan di Indonesia dan meningkatkan tingkat konsumsi protein hewani masyarakat yang masih rendah. Tingkat konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah ini, dipandang oleh negara lain sebagai potensi pasar bagi mereka. Untuk itu, kita sebagai bangsa sendiri juga harus dapat memanfaatkan peluang ini.

Berikut susunan pengurus ISPI periode 2018-2022

Ketua Umum : Ir. Didiek Purwanto
Ketua I : Dr. Soeharsono, S.Pt., M.Si
Ketua II : Ir. Sugiono, MP
Ketua III : Ir. Suaedi Sunanto
Ketua IV : Ir. Robi Agustiar, S.Pt., IPM

Sekretaris Jenderal : Joko Susilo S.Pt.,
Wakil Sekjen I : Ismatullah Salim S.Pt.,
Wakil Sekjen II : Andang Indarto S.Pt.,
Bendahara Umum : Idha Susanti S.Pt., MM.,
Wakil Bendahara : Christine Septriansyah S.Pt.,

PBISPI

Artikel Lainnya

  • Apr 05, 2019

    Revisi Grand Desain Sapi Potong

    Pemerintah bercita-cita bahwa di tahun 2045, Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia. Dimana komoditi sapi potong akan menjadi lumbung pangan Asia di tahun yang sama. Pernyataan perencanaan ini tertuang dalam Grand Desain Pengembangan Sapi Potong dan Kerbau 2045, yang dipublikasikan oleh Kementrian Pertanian pada tahun 2016 lalu. Dalam grand desaintersebut, disebutkan target-target dan asumsi-asumsi yang harus dipenuhinya. Pasalnya, jika asumsinya tidak dipenuhi maka dengan sendirinya progam tersebut tidak mungkin akan dijalankan.  ...

  • Apr 01, 2019

    Banjir Ayam Broiler

    Melimpahnya produksi ayam broiler (pedaging) menjadi salah satu indikator turunnya harga ayam broiler ditingkat peternak. ...

  • Apr 01, 2019

    Program Bekerja Menuai Hasil

    Program bantuan Kementerian Pertanian (Kementan) berupa ayam 1,4 juta ekor di Kabupaten Brebes tahun 2018 telah menuai hasil. Ayam tersebut sudah bertelur sehingga masyarakat telah merasakan manfaat yakni tambahan pendapatan. ...

  • Apr 01, 2019

    Pengusaha Pembibitan Unggas Dihimbau Pangkas Produksi 10%

    Pengusaha pembibitan unggas dihimbau untuk memangkas produksi DOC (Day Old Chick/anak ayam umur sehari) sebesar 10% untuk membantu mengatrol harga panen ayam broiler. ...

  • Mar 28, 2019

    Pasar Virtual Komoditi Hasil ternak

    Di era digital saat ini, telah terjadi perubahan mekanisme pasar, yang memporak porandakan pasar konvensional. Perubahan pola transaksi tukar fisik barang menjadi uang cashyang penuh dengan resiko, kini, berubah menuju pembayarannon tunai(cashless)melalui sistem aplikasi digital. Perubahan ini, telah pula mengubah tatanan perekonomian. Konsumen dan produsen dimanjakan, pedagang antara (middle man) rantainya dipotong, sistem transaksi dimudahkan, pembayaran aman, kualitas barang terjaga, keuntungan berlipat-lipat dan banyak lagi manfaat lainnya. Konsumen maupun produsen menerima harga pangan yang terjangkau dan relatif lebih murah, jika dibandingkan dengan era sebelumnya.  ...