PANDANGAN PAKAR MENGENAI BAHAN BAKU PAKAN TERNAK DI PASAR GLOBAL


Rubrik: opini_pakar | 2020-03-13

 

 

Menengok Bahan Baku Industri Pakan Ternak di Pasar Global

 

 

Oleh : Paulus Setiabudi, Ph.D

Indonesia merupakan negara dengan populasi penduduk terbesar ke-4 di dunia, harapannya industri pakan ternak bisa menduduki posisi 9 besar negara Asia bahkan dalam peringkat 25 besar di dunia.

Pangan baik dari hasil pertanian, hortikultura, peternakan dan perikanan pasti selalu dibutuhkan oleh manusia yang diperkirakan populasinya sudah lebih dari 7 miliar jwa. Sekitar 62% dari total manusia yang tinggal di bumi, mereka tersebar di Asia. Tentu dengan meningkatnya jumlah penduduk, populasi hewan ternak, dan produk pertanian maka semakin banyak juga pangan dan pakan yang dibutuhkan. Padahal hasil pertanian dan hortikultura terkendala lahan tanam yang makin berkurang dan cuaca ekstrem, pemanasan global, hingga berbagai bencana alam sehingga diperkirakan harga pangan bagi manusia dan harga pakan bagi ternak akan semakin naik akibat dampak hukum ekonomi suplai dan kebutuhan.
Konsumsi hasil ternak

Berdasarkan data tahun 2018 dari OECD-FAO Agricultural Outlook 2018-2027, menyebutkan bahwa konsumsi daging unggas beberapa negara seperti Israel 58,5; Amerika Serikat 49,8; Malaysia 46,7; Australia 43,9; Brasil 40,6; Argentina 40,4; Saudi Arabia 40,0; Selandia Baru 37,4; Chile 36,1; dan Afrika Selatan 36,1 (kg/kapita/tahun). 

Selain itu, masih dari sumber yang sama, untuk 10 negara konsumen daging unggas terbesar di dunia antara lain Tiongkok 19,0; Amerika Serikat 18,0 ; Uni Eropa 14,0; Brasil 8,9; Rusia 5,5; Meksiko 4,1; India 3,2; Jepang 2,4; Afrika Selatan 2,3; dan Iran 2,1 (juta ton). Sedangkan untuk Indonesia, diperkirakan untuk konsumsi daging unggasnya sekitar 4 juta ton. 

Besarnya konsumsi per kapita dan 10 negara konsumen daging unggas terbesar di dunia tergantung pada besarnya pendapatan masyarakat, tingkat pendidikan, serta populasi penduduk dari negara-negara tersebut.

Perkembangan pakan ternak di dunia
Tahun 2019 merupakan tahun yang banyak gejolak di industri pakan, di samping peningkatan produksi pakan unggas yang cukup baik namun terjadi penurunan pakan babi akibat wabah ASF African Swine Fever yang sangat ganas dan merebak di lebih dari 20 negara termasuk Indonesia terutama di Sumatra Utara.

Negara yang paling parah yang terkena wabah ASF yakni Tiongkok dan Vietnam, sehingga terjadi pemusnahan jutaan babi di kedua negara tersebut. Akibatnya, Tiongkok mengimpor banyak daging babi dari Brasil dan Amerika Serikat serta daging ayam untuk mensubstitusi kekurangan daging babi. Dampak dari ASF tentu menurunkan persentase pertumbuhan produksi pakan dunia. Mengutip pemberitaan dari Watt Feed eNews, menurut hasil Alltech Global Feed Survey, produksi pakan dunia mengalami penurunan 1,07% atau turun sekitar 9,8 juta ton pada tahun 2019.

Merujuk ulang pada data majalah Feed Strategy edisi Juni 2018 pada artikel World Feed Panorama yang ditulis Chris Wright, jumlah pakan ternak produksi pabrik di dunia tahun 2017 sebesar 910 juta ton yang meningkat 2% dari 893,2 juta ton pada tahun 2016. Produksi di regional Asia Pasifik sebesar 34%, Amerika Latin 6%, Timur Tengah dan Afrika 7%, Amerika Utara 22%, Eropa dan Rusia 21%. Produksi pakan di negara Uni Eropa tumbuh 0,2% pada tahun 2017 atau sebesar 156,7 juta ton. Kontribusi pakan ruminansia naik 1% menjadi 22,5% dan aquafeed tumbuh 0,5% menjadi 4,5%, pakan unggas turun 1% menjadi 46,5%, sedangkan pakan babi juga turun 0,5% menjadi 26,5% dari total pasar, aquafeed terus tumbuh di seluruh dunia, pakan unggas justru turun akibat HPAI demikian juga penyakit pada babi. 
Pakan ternak secara global tahun 2018 masih meningkat sekitar 2%, dengan total produksi sekitar 920 juta ton (tahun 2019 menunggu data terbaru majalah Feed Strategy). Posisi produsen pakan terbesar di dunia tahun 2019 diprediksi masih tetap dipegang oleh Amerika Serikat yang pangsa pasarnya di Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada). Pangsa pasar kawasan ini lebih besar dari pangsa pasar Eropa dan Rusia. Produsen pakan terbesar kedua yakni Tiongkok yang merupakan negara penghasil babi serta konsumen babi terbesar di dunia. Posisi ketiga Amerika Latin yang bertahan sekitar 16% dari total produksi pakan dunia. Brasil mewakili kawasan Amerika Latin sebagai negara produsen pakan terbesar ketiga di dunia dan sebagai eksportir ayam terbesar di dunia. Sedangkan untuk Indonesia sendiri, menurut Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto Budi Utomo, Ph.D, menyebutkan untuk produksi pakan nasional pada tahun 2019 sekitar 19,5 juta ton dan diprediksi pada tahun 2020 sekitar 20,6 juta ton.


Bahan pakan utama pakan ternak secara global
Bahan pakan utama untuk pakan ternak terutama unggas dan babi adalah jagung dan bungkil kedelai, selain meat and bone meal atau fish meal sebagai sumber protein hewani untuk pakan di beberapa negara serta rice bran dan wheat bran atau berbagai biji-bijian tergantung pada situasi dan kondisi hasil pertanian negara tersebut. 
Menurut data www.indexmundi.com, sepuluh negara besar produsen jagung dunia tahun 2017 adalah Amerika Serikat 381,7 juta; Tiongkok 254 juta; Brasil 101 juta; Uni Eropa 64,2 juta; Argentina 49 juta; Ukrania 33 juta; India 29 juta; Meksiko 27 juta; Kanada 15,4 juta; dan Afrika Selatan 14 juta (ton), sedangkan Indonesia masih dari sumber yang sama menyebutkan bahwa produksinya mencapai 28,9 juta ton, sehingga yang menjadi pertanyaan banyak orang kenapa harga jagung lokal lebih mahal serta tidak termasuk dalam daftar 10 besar negara produsen jagung dunia. Data perbandingan lain, menurut www.worldofcorn.com (Pioneer Dupont Incorporation), negara penghasil jagung terbesar tahun 2017 adalah Amerika Serikat 408,9 juta; Tiongkok 233,3 juta; Brasil 91,935 juta; Argentina 38,7 juta; dan Ukraina 28,7 juta (ton).
Selain jagung yang digunakan sebagai bahan pakan untuk pakan ternak, bungkil kedelai juga merupakan bahan pakan penyusunnya. Menurut data FAO, produksi biji kedelai dari 20 negara tahun 2017 yakni Amerika Serikat 119,5 juta; Brasil 114,5 juta; Argentina 54,9 juta; Tiongkok 13,1 juta; India 10,9 juta; Paraguay 10,4 juta; Kanada 7,7 juta;  Ukraina 3,8 juta; Rusia 3,6 juta; Bolivia 3,0 juta; Afrika Selatan 1,3 juta; Uruguay 1,3 juta; Italia 1,0 juta; Nigeria 730 ribu;  Indonesia 542 ribu; Serbia 461 ribu; Meksiko 433 ribu; Romania 416 ribu; Prancis 412 ribu; dan Zambia 352 ribu (ton). 
Bungkil kedelai yang biasanya hanya menjadi limbah sisa pembuatan minyak kedelai merupakan bahan pakan yang banyak digunakan pada industri pakan ternak. Menurut Ioannis Mavromichalis, Ph.D, yang merupakan Animal Nutrition Industry Consultant, mengatakan bahwa sebanyak 31,2 juta ton soybean meal (SBM)/bungkil kedelai digunakan pada periode tahun 2017-2018. Soybean meal merupakan sumber utama protein bagi hewan monogastrics (unggas dan babi). Sebanyak 48% digunakan untuk membuat pakan broiler, 9% untuk layer, dan 7% untuk kalkun, sehingga secara total 64% SBM/bungkil kedelai digunakan untuk pakan unggas.
Selain bungkil kedelai, sunflower seed/biji bunga matahari juga banyak digunakan untuk bahan membuat pakan ternak. Menurut Efstratia Papanikou, Ph.D, seorang konsultan bahan baku pakan, sunflower seed merupakan salah satu bahan pakan sebagai sumber protein dan fiber yang bagus, mengandung 42% oil, 16% crude protein, 27% fiber, sehingga sunflower seed sangat bagus sebagai salah satu bahan pakan ternak, kandungan protein dan fibernya tergantung pada pengolahan biji bunga matahari tersebut. 
Berdasarkan data FAO pada tahun 2017, negara penghasil sunflower seed/biji bunga matahari antara lain Ukraina 12,2 juta; Rusia 10,4 juta; Argentina 3,5 juta; Romania 2,9 juta; Tiongkok 2,5 juta; Bulgaria 2,0 juta; Turki 1,9 juta; Hongaria 1,893; Prancis 1,6 juta; Amerika Serikat 984 ribu; Tanzania 930 ribu; Kazakhstan 903 ribu; Afrika Selatan 874 ribu; Spanyol 842 ribu; Moldova 804 ribu; Serbia 541 ribu; Myanmar 260 ribu; Uganda 245 ribu; Italia 244 ribu; Yunani 221 ribu (ton). Dari data tersebut Indonesia tidak masuk 20 besar negara di dunia penghasil sunflower seed.   
Gambaran tahun 2020
Bayangan kelesuan ekonomi global dan persoalan geopolitik serta berbagai penyakit tentu berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Investasi di sektor riil pasti juga melambat terlebih di industri pakan ternak yang pada tahun 2018-2019 sudah banyak perusahaan melakukan peningkatan kapasitas terpasang. 

Indonesia merupakan negara dengan populasi penduduk terbesar ke-4 di dunia, tentu berharap industri pakan bisa menduduki posisi 9 besar negara Asia bahkan dalam peringkat 25 besar di dunia. Oleh karena itu, hasil pertanian untuk tanaman pangan serta pakan ternak harus ditingkatkan agar bisa mengurangi ketergantungan impor bahan pakan, sehingga bisa menghemat devisa, sebab persaingan permintaan di pasar global terus meningkat. 
Seandainya bahan pakan utama seperti jagung, SBM, dan MBM bisa dicukupi secara swadaya dan harganya bisa lebih rendah, serta harga DOC broiler sekitar Rp5.000 per ekor, maka biaya pokok produksi (BPP) broiler bisa ditekan, sehingga BPP broiler hanya sekitar Rp14.000-15.000 per kilogramnya. Semoga pengandaian ini bisa terwujud, sebab sudah beberapa tahun terakhir ini para peternak broiler mengeluh bahwa harga ayam di bawah biaya produksi yang mengakibatkan mereka merugi. *Staf Ahli majalah Poultry Indonesia, pengamat perunggasan, dan pengajar Global Marketing Management.

Lebih lengkap, silahkan simak di Majalah Poultry Indonesia Edisi terbaru Maret 2020 hal 22 sd 23 pada kolom Sudut kandang 

 

SEKJEN PB ISPI

Artikel Lainnya