Pola Grazing dan Browsing Ruminansia : Esensinya untuk Manajemen Praktis

Disusun oleh: Suhubdy (Ruminant Nutritionist, Recent Trend and Gaps Fakultas Peternakan Universitas Mataram, Mataram NTB)

#RuminantCybrary, I (2): 4 1 2022

Tulisan sebelumnya (Ruminansia, Jerami dan Pangan Berkualitas) telah membahas esensi ruminansia dalam mengkonversi hijauan pakan menjadi pangan dan energi yang berkualitas (Feed to Food and Fuel). Edisi ini mendiskusikan esensi pola makan ruminansia berkaitan dengan manajemen pemeliharaan dan kepentingan budidaya lainnya.

Grazing adalah aktivitas makan dengan cara menyenggut material pakan terutama yang berada di padang gembala. Sedangkan browsing adalah aktivitas makan dengan cara meramban pucuk-pucuk dedaunan muda dari semak dan belukar dan/atau pepohonan yang layak menjadi bhn pakan. Kedua tipe pola makan demikian, tidak dilakukan oleh semua hewan/ternak ruminansia. Diantara mereka ada yang berperilaku makannya hanya merumput dan/atau ada yang meramban saja. Pertanyaannya adalah mengapa berpola makan seperti itu?

Aktivitas grazing dan browsing mungkin berhubungan dengan struktur, anatomi dan fisiologi bucal capity (rongga mulut) dan organ pencernaannya. Pola makan ruminansia, berdasarkan teori Huffmann (1973; 1989, dst), terbagi menjadi tiga (3) kategori. Pertama, adalah golongan concentrate eaters (gol Cervidea: rusa dan sebangsanya); kedua adalah roughages eaters (gol Bovine: kerbau, sapi, dan ruminansia besar liar lainnya); dan yang ketiga adalah intermediate selectors (gol Ovin dan Caprine: domba dan kambing).

Selama 10 tahun Huffmann membangun teorinya berdasarkan studinya tentang “wild herbivores” di kondisi kawasan Afrika Timur. Banyak sekali fenomena pola makan ruminansia yang diungkapkan oleh Huffmann (1973). Sedangkan pola seleksi pakan yang relatif baru secara ekstensif di ungkapkan oleh Provenza (2013) tentang Foraging Behaviour: Managing to Survive in a World of Change. Jika teman-teman tertarik untuk memahami lebih mendalam tentang keterhubungan foraging berhubungan dengan fisiologi pencernaan, silakan menyimak buku Hofmann, R. R. (1973): The ruminant stomach: Stomach structure and feeding habits of East African game ruminants. 1973 pp.354pp.

Ilustrasi Grazing and Browsing (Sumber: Penulis)

Kegiatan grazing dan browsing sesungguhnya erat kaitan dengan struktur bucal capity dan fenolologi tetumbuhan pakan (Gordon dan Illius, 1988; Suhubdy, 2002; 2016). Dan hal itu juga mempengaruhi dinamika zat gizi, kesetabilan vegetasi, dan kesehatan lahan.

Umumnya, ruminansia besar menggantungkan kehidupannya dengan mengkonsumsi lebih banyak roughages (hijauan banyak berserat) karena volume dan ekosistem retikulo-rumen yang besar dan mempunyai retention time pakan di dalamnya yang lama sehingga lebih lama terfermentasi oleh mikroba rumen. Mereka makan mengandalkan peran lidah-nya sebagai prehensile apparatus dan mengalokasikan waktu sekitar 8jam/hari untuk aktivitas merumput dan antara 8 -12 jam ruminasi.

Khusus sapi Bali, disamping makan dengan pola grazing mereka juga browsing. Sedangkan domba dan kambing mereka cenderung memanfaatkan gigi dan bibir dalam melakukan grazing dan browsing. Golongan ruminansia kecil ini dpt hidup pada dua tipe ekosistem. Mereka cenderung meramban jika tumbuhan pakan banyak tersedia berupa semak dan belukar, terutama kambing. Sedikit berbeda, domba lebih banyak grazing, peran bibir dan gigi sangat dominan.

Pada galibnya, rambanan itu punya zat gizi yang prima. Akan tetapi mereka dapat pula hidup dari pakan roughage yang kualitas kurang prima gizinya. Sedangkan dari golongan rusa, mereka lebih menggantungkan hidupnya unt mendapatkan dedaunan rambanan yang berkualitas sangat bagus. Struktur anatomi dan fisiologi organ pencernaan rusa relatif kecil volumenya dibanding domba dan kambing. Kondisi yang demikian itu menyebabkan rusa banyak dijumpai hidup dalam ekosistem hutan dari pada padang rumput terbuka.

Keterbatasan ruang dalam rubrik Ruminant Cybrary ini sehingga tak mungkin secara rinci dapat diungkapkan semuanya. Namun untuk yang tertarik mendalami pola makan, dapat konsultasi atau komunikasi dengan penulis.

Urgensi dari uraian di edisi ini adalah mengajak para pembaca agar dapat memperhatikan dengan saksama pola makan ruminansia dan fenomenologi tanaman pakan unt menerapkannya pada manajemen pemeliharaan.

Tiga aktivitas utama ruminansia dalam keseharian hidupnya yaitu prehension, rumination, dan ilding. Ketiga aktivitas itu hampir sama banyak mengalokasikan waktunya yaitu masing-masing relatif sekitar 8 jam/hari. Alokasi waktu kegiatannya tidak dilakukan secara berturut-turut tetapi dilakukan secara random. Walaupun demikian, semuanya mempunya pola yang spesifik dan teratur (Suhubdy, 1999; 2002). Pola makan mereka dipengaruhi oleh fenologi tumbuhkembang rerumputan atau forages.

Pada saat fase vegetatif, ruminansia mengalokan lebih banyak waktu untuk makan. Sebaliknya jika rerumputan sudah dalam fase generatif, yang dinding selnya mulai cenderung berlignin banyak maka mereka akan makan dalam waktu relatif singkat dan lebih banyak waktunya unt ruminasi. Oleh sebab itu, ketika akan menyajikan makan, kita harus paham apakah hal itu dilakukan pada waktu yang tepat untuk menyajikan makan atau tidak? Selanjutnya, ruminansia cenderung menyenggut bagian hijauan atau rerumputan yang mudah disenggut. Ini berarti, ruminansia mempunyai tabiat menyeleksi bahan pakannya. Peternak harus paham tentang mana jenis dan/atau bagian pakan yang disukai dan/atau pakan mana yang kurang diminati. Tabiat makan ini dapat dijadikan sebagai salah satu indikator manajemen pemberian pakan maupun melakukan pemuliabiakan terhadap tanaman pakan.

Singkatnya, grazing dan browsing adalah tabiat makan ruminansia yang terbawa sejak lahir dan menjadi penciri dan biomarker dalam hal pengembangan teknologi dan pabrikasi pakan, pemenuhan zat gizi, dan manajemen praktis. Semoga penjelasan singkat ini dapat dijadikan sebagai standar pengetahuan dalam memelihara dan membudidayakan ternak ruminansia. (04-01-2022).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.