Ruminansia, Jerami dan Pangan Berkualitas

Disusun oleh: Suhubdy (Ruminant Nutritionist, Recent Trend and Gaps Fakultas Peternakan Universitas Mataram, Mataram NTB)

#RuminantCybrary, I (1)

Ruminansia adalah sekelompok hewan yang dicirikan oleh aktivitas memamahbiak atau mengunyah kembali bolus pakan yang sudah ditelan. Kegiatan itu dikenal dengan istilah ruminasi. Ruminasi ini dilakukan bertujuan untuk menghaluskan bolus pakan menjadi ukuran yg relatif lebih kecil (1,0 – 2,0 mm, Poppi dkk., 1985) sehingga partikel pakan yang sudah halus ini dapat masuk ke omasum, (perut kitab, red) melalui omasal orifice, suatu lubang yang menghubungkan antara rumen dan omasum yang merupakan pintu awal digesta yang selanjutnya akan mengalir hingga ke bagian usus halus, tempat semua digesta dicerna secara emzimatik dan diserap zat gizinya.

Ruminansia mempunyai organ pencernaan bagian depan yang terkompatementasi menjadi rumen, retikulum, omasum, dan abomasum. Keseluruhan bagian lambungnya, untuk menyingkat penyebutannya, ditulis “rumen” saja. Selain struktur anatomi dan fisiologinya yang spesifik, retikulo-rumen itu dihuni oleh sekelompok mikroba berupa baketeri, protozoa, jamur, dan archea (Mullen, dkk., 2016). Konsorsium mikroba inilah yang membantu hewan dan/atau ternak ruminansia (induk semang) untuk mengekstrak dan memanfaatkan biomassa pakan terutama yang bersumber dari hijauan yang banyak mengandung zat selulosa atau bahan serat lainnya, seperti misalnya jerami-jeramian; dari tanaman pangan, hay rerumputan, dan/atau dedaunan dari semak dan belukar yang secara langsung tidak dapat diproses dan dicerna oleh organ pencernaan induk semang, karena ia relatif tidak memiliki enzim seperti yang dihasilkan oleh mikroba (selulase, hemiselulase, dan lain lain). Singkatnya, rumen adalah pabrik pangan alami yang beroperasi tanpa hentinya selama ternak ruminansia itu hidup.

Ruminansia yang masih muda usianya (<6 bulan) memanfaatkan air susu induknya sebagai sumber gizi terutama glukosa sebagai sumber gizi energi. Setelah usianya melebihi 6 bulan, ketika organ pencernaan bagian depan sudah sempurna tumbuhkembang, maka ternak ruminansia dapat menanfaatkan pakan hijauan yang banyak berserat untuk memenuhi kebutuhan zat gizi hariannya. Pakan hijauan yang sudah dikonsumsi itu terfermentasi dalam retikulo-rumen oleh air, enzim yg dihasilkan oleh mikroba, dan cairan saliva yang tertelan baik sewaktu makan maupun saat ruminasi. Fermentasi material pakan menghasilkan asam lemak berantai pendek (asetat, propionat, butirat) – yang dikenal dengan terminologi volatyle fatty acids (VFA) – dan juga beberapa gas, yang dominan adalah gas “metana”. Saat fermentasi pakan, mikroba memanfaatkan zat nitrogen (N) dan carbon (C) terlarut dari pakan untuk kehidupannya sehingga mereka dapat tumbuhkembang dalam rumen yang ekologinya spesifik untuknya. Karena populasi mikroba tumbuhkembang degan cepat dalam waktu relatif singkat hingga melampaui kapasitas rumen, maka sebagian dari mereka terjadi lisis (mati). Mikroba yang lisis itulah yang dikenal dengan microbial protein synthesis (MPS) yang nantinya menjadi sumber gizi protein. MPS, VFA, dan bypass protein (protein yg lolos dari degradasi mikroba rumen) itulah menjadi sumber protein dan energi utama untuk memenuhi kebutuhan zat gizi ternak induk semang (semisal: domba, kambing, kerbau, sapi, dan rusa). Dengan demikian, mereka dapat melakukan aktivitas berproduksi dan bereproduksi menghasilkan daging, susu, fetus (janin), dan tenaga atau produk esensial lainnya.

Air susu dan daging merupakan sumber pangan berkualitas yang kaya zat gizi primer seperti protein, lemak, karbohidrat, mineral, dan vitamin yg fungsinya sangat vital dalam kehidupan manusia terutama anak balita.

Itulah sekelumit cerita singkat bagaimana ternak ruminansia mengkonversi biomassa rerumputan atau bahan-bahan limbah industri pertanian (yang sejatinya tidak dapat dikonsumsi secara langsung oleh manusia) menjadi pangan yg bergizi prima.

Singkatnya, dapat dibayangkan, seandainya ruminansia dan mikroba (jasad renik) tidak diciptakan oleh Tuhan YME, maka dunia ini akan penuh limbah terutama bersumber dari aktivitas pertanian dan aktivitas antropogenik lainnya. Untuk itu, mari kita memanfaatkan keberadaan ternak ruminansia sebagai pabrik pangan murah dan ramah lingkungan yg berperan menghasilkan bahan pangan bernilai gizi prima (dalam waktu relatif singkat, 24 jam dan tanpa butuh energi fosil) untuk menunjang kehidupan manusia di bumi.

Ingat, kita tidak dapat mengkonsumsi jerami secara langsung. Ruminansialah yg dapat melakukan itu secara kontinyu, sangkil, mangkus, dan bijak. Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat!

(03-01-2022)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.