Tantangan Pengembangan Bahan Pakan Lokal

Dr. Ir. Osfar Sofjan, M.Sc., IPU., ASEAN Eng. (Ketua Umum Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI))

Dari segi nutrisi, kandungan bahan pakan lokal tidak kalah dengan bahan pakan impor. Namun keberlanjutan serta ketersediaan  masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan. Terlebih dengan pesatnya teknologi digital, membuat perubahan terjadi begitu cepat dan sangat sulit diprediksi.

Pakan merupakan komponen penting yang menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan produksi budi daya unggas, baik dalam pemeliharaan ayam pedaging maupun petelur. Selain itu, pakan juga memiliki persentase yang cukup besar dalam pembentukan biaya produksi di suatu peternakan. Oleh karenanya, pemberian yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi pada ternak sangat penting untuk dilakukan guna mencapai efisiensi usaha. Krusialnya peranan pakan dalam keberhasilan usaha perunggasan ini, membuat berbagai pemangku kepentingan berupaya untuk menghasilkan produk pakan terbaik, hingga sisi nutrisinya.

Saat ini nutrisi pakan unggas menjadi sektor yang perkembangannya sudah sangat pesat. Selain itu, riset nutrisi pakan di Indonesia bisa dikatakan tidak tertinggal oleh perkembangan di luar negeri. Dimana telah banyak penelitian yang mengarah kepada nutrigenomik dan nutrisi di tingkat seluler, yang memikirkan bagaimana memberi makan sel, bukan lagi memikirkan bagaimana memberi makan ternaknya. Terutama pada pakan unggas, yang kemajuannya lebih pesat apabila dibandingkan dengan pakan ternak lain.

Kendati riset terkait nutrisi pakan unggas telah berkembang dengan baik, namun penulis melihat bahwa tantangan ke depan adalah bagaimana mencari pakan yang efektif dan efisien dengan berbasis bahan pakan lokal. Kondisi bahan pakan lokal, secara nutrisi lebih dari cukup, namun faktor keberlanjutan menjadi masalah yang harus diselesaikan. Seperti halnya jagung lokal yang mempunyai potensi kualitas lebih baik daripada jagung impor dan lebih disukai oleh pabrik pakan. Namun dari sisi  produksi bersifat musiman, sehingga membutuhkan manajemen khusus untuk dapat tersedia sepanjang tahun.

Selain itu, terkait persebaran daerah produksi, rantai tata niaga, kuantitas bahan pakan hingga kualitas penanganan pascapanen juga menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pengembangan pakan berbasis lokal. Kemudian, terdapat bahan pakan bungkil inti sawit yang mempunyai potensi sangat besar namun belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Sebagai penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, hasil samping bungkil inti sawit ini seharusnya dapat dimanfaatkan untuk bahan pakan ternak termasuk ayam, karena secara jumlah dan keberlanjutan sudah terjamin.

Bahan pakan sumber energi ini, juga memiliki protein yang cukup tinggi, namun cangkang atau batok yang membungkusnya menjadi faktor pembatas tersendiri. Hal ini membuat bungkil inti sawit belum dapat digunakan untuk pakan unggas dalam proporsi yang besar. Namun apabila bisa dipakai oleh pabrik pakan di Indonesia dalam proporsi tertentu, berarti sudah bisa mengurangi kebutuhan jagung sebagai sumber energi dalam negeri. Terlebih dalam penelitian, bungkil inti sawit telah mampu menggantikan fungsi jagung sebanyak 50 persen pada itik. Hal ini menggambarkan bahwa bungkil inti sawit mempunyai potensi besar untuk terus dikembangkan, sebagai sumber bahan pakan berbasis lokal.

Disisi lain, era teknologi digital membuat perubahan terjadi begitu cepat dan sangat sulit diprediksi. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan pakan lokal. Untuk itu, Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) perlu mengoptimalisasi sumber daya lokal seperti bibit, pakan, sarana prasarana dan juga teknologi yang nantinya bisa mengarah pada swasembada produk peternakan.

AINI ada sebagai organisasi yang berperan membangun sistem dan sinergitas antar pihak di bidang nutrisi dan pakan lokal. AINI hadir untuk membangun pusat informasi aktual melalui komunikasi advokasi dan publikasi ilmiah serta menciptakan profesionalisme, melalui pengembangan kompetensi dan sertifikasi profesi. Selain itu, AINI ada sebagai wadah menciptakan pusat rujukan nasional dan internasional melalui penelitian dan diseminasi teknologi. Potensi bahan pakan lokal yang begitu besar ini dapat dimanfaatkan secara optimal apabila diatur dan dikelola secara baik.

Sebagai Ketua Umum AINI, penulis berharap adanya sinergitas antar semua pemangku kepentingan, baik pemerintah, akademisi, industri maupun peternak sesuai dengan porsinya masing-masing. Dalam hal ini, peran pemerintah sangat diperlukan untuk mengatur arah kebijakan pembangunan bahan pakan lokal. Selain itu, peternak juga harus mulai bersatu dalam sebuah kelompok sehingga posisinya akan lebih kuat. Disisi lain peran industri juga sangat dibutuhkan dalam akselerasi optimalisasi penggunaan bahan pakan lokal.

Artikel sebelumnya sudah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Desember 2021.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.