USAHA SAPI PERAH RAKYAT YG SEMAKIN TERPINGGIRKAN

Apakah benar usaha sapi perah rakyat khususnya di sentra-sentra produksi susu di pulau Jawa semakin terpinggirkan, baik yang menyangkut kelangsungan usaha dan keberlanjutan para peternaknya ? Untuk mencari jawabnya, suatu kegiatan monitoring singkat telah dilakukan oleh Direktorat Bibit dan Produksi Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan belum lama berselang di awal bulan Juli 2020, dengan mengunjungi Koperasi Sapi Perah Giri Tani di Cisarua Bogor yang letaknya tidak jauh dari Taman Safari yang terkenal itu.

Chairul Arifin

Dari diskusi ringan, enteng tapi berisi dengan para pengurus koperasi, memperoleh keluhan pertama dari pengurus tentang dampak pandemi Covid-19 yang menyebabkan turunnya jumlah maupun kwalitas susu yang dihasilkannya sebagai akibat tidak adanya bahan baku pakan yg berasal dari ampas tahu sebagai komponen konsentrat pakan sapi perahnya. Apa hubungannya dengan ampas tahu dan usaha sapi perah ? Ternyata sebagai dampak dari Covid-19 bahan baku pembuatan tahu yang berasal dari kedelai impor sudah tidak berjalan lagi yang menyebabkan pabrik tahu berhenti beroperasi. Padahal ampas tahu ini selalu ditunggu dan dinantikan oleh para peternak sapi perah anggota koperasi Giri Tani.

“Kami terpukul betul oleh situasi ini,” kata H. Benyamin (55 thn), ketua Koperasi didampingi oleh H. Marwan (60 thn). “Anda bisa bayangkan semula berproduksi total 2000 liter per hari dari sekitar 700 ekor sapi sekarang hanya mampu berproduksi 1300 liter. Berarti pandemi itu telah berdampak penurunan produksi susu sekitar 30-35%. Kami didera penderitaan setiap harinya selama 3 bulan pterakhir. Untungnya produksi kami berapapun banyaknya selalu diserap oleh IPS Cimory yaitu pabrik pengolahan susu yang mulai terkenal itu.”

Selain itu dari diskusi yang diikuti pula oleh teman-teman Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor terbersit kegalauan para peternak rakyat yang biasanya hanya memelihara 2-3 ekor sapi perah, tentang keberlanjutan usaha sapi perahnya kelak pada beberapa tahun yang akan datang mengingat semakin derasnya arus konversi lahan dan penerus usaha keberlanjutan sapi perahnya. “Menambah dan mengembangkan sapi perah sudah tidak mungkin lagi karena trade-off penggunaan lahan dengan usaha lainnya sudah tak terhindarkan lagi. Selain itu kami juga khawatir dengan alih generasi usahanya.”

Cara berpikir mereka yang lebih banyak berusia tua, dan berpendidikan SD, sudah tidak lagi melahirkan inovasi selalu berpikir bahwa yang dapat meneruskan usahanya kelak adalah anak atau kerabatnya terus ada dalam pikiran mereka. Padahal konversi lahan terus terjadi dan anak-anak mereka sekarang sudah berpendidikan tinggi dan tidak lagi gaptek yang kadang tidak bisa diikuti lagi oleh generasi orang tuanya.

Pada kesempatan itu diskusi menyimpulkan pemikiran bahwa nanti akan terjadi alih generasi dari generasi peternak yang lahir di rentang tahun 1946-1964, atau yang disebut generasi baby boomers dan yang lahir di rentang tahun 1965-19800 atau generasi X kepada generasi Y (Milenial) yang lahir di rentang tahun 1981-1994 dan generasi Z kelahiran th 1995-2010. Mereka akan berbondong-bondong memasuki usaha sapi perahnya. Generasi yang muncul ini membawa momentum besar perubahan usaha budidaya sapi perah.

Mereka ini berpendidikan tinggi, cerdas, kritis, suka perubahan dan hormat pada orang tua atau seniornya memandang budidaya sapi perah itu sebagai salah peluang bisnis yang sangat prospektif. Tidak lagi memandang sapi perah itu sebagai usaha keluarga turun temurun melainkan sebagai usaha korporasi yang tidak lagi subsisten seperti sekarang ini, tetapi sebagai usaha yang memiliki daya saing dan nilai tambah sebagaimana komoditi lainnya di bidang industri dan jasa..

Selamat datang generasi penerus, generasi muda Milenial yang cerdas, kritis, suka perubahan dan berani mengambil resiko…..

Selain itu mereka akan berpikir integratif dalam rangka efisiensi usaha sapi perahnya. Anak-anak muda ini tidak puas dengan hanya berbudi daya tetapi juga berupaya di bidang pengolahan dan memasarkannya dengan mendirikan cafe. Cafe-cafe tersebut memasarkan inovasi pengolahan susu yaitu keju, yoghurt, ice cream , dan susu awetan dengan campuran berbagai rasa coklat, vanilla, strawbery dan sebagainya dengan sistim jaringan dan digital. Kelompok anak muda ini akan menggantikan generasi sebelumnya dengan damai karena generasi yang aging itu melihat pendekatan yang telah dilakukan oleh anak-anak muda itu suatu keniscayaan. (Faruk Mochtar dan Chairul Arifin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *