Catatan Perjalanan ISPI : Pilihan Nama “Ikatan Sarjana Ilmu-Ilmu Peternakan” dan “Ikatan Sarjana Peternakan”

Hingga tahun 2020, ISPI genap berusia 52 tahun dan telah menyelenggarakan 12 kali kongres. Ada dinamika menarik selama perjalanan sejarah ISPI, yaitu tentang nama ISPI sebagai Ikatan Sarjana Peternakan Ilmu-Ilmu Indonesia dan Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia.

Didiek Purwanto (Ketum 2018-2022) dan Ali Agus (Ketum 20014-2018) dalam Kongres ISPI XII 2018 di Malang. Tak ada lagi perdebatan nama organisasi.

Soal perubahan kepanjangan nama ISPI dari luar mungkin tampak sebagai perubahan biasa, namun di dalam organisasi sendiri merupakan dinamika yang cukup hangat.

Pada awal berdirinya tahun 1968, ISPI merupakan kependekan dari Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia. Dilema muncul dalam kongres II di Cipayung Bogor tahun 1974 dimana jumlah sarjana peternakan masih sedikit, meskipun sudah ada lulusan dari UGM dan sudah ada cabang ISPI di Jogjakarta.

Baroto Suranto, yang aktif di ISPI sejak tahun 1974 mengatakan, dosen-dosen ilmu peternakan baik di IPB maupun UGM pada waktu itu sebagian besar adalah Dokter Hewan. Pengusaha yang menggeluti bisnis peternakan juga bukan sarjana peternakan.

”Akhirnya, demi kepentingan membesarkan organisasi, sekat ikatan sarjana peternakan dibuka. Sarjana non peternakan dan pengusaha yang mempunyai interes tinggi pada bidang peternakan dibuka kesempatan untuk masuk dalam organisasi. Alhasil,Kongres II di Cipayung Bogor, 29 Juli-1 Agustus 1974 memutuskan mengubah nama dari Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia menjadi Ikatan Sarjana Ilmu-Ilmu Peternakan Indonesia dengan singkatan masih sama ISPI,” urai Baroto, alumni Fapet UGM angkatan pertama yang berkarir di Ditjen Peternakan dan termasuk generasi awal ISPI.

Erwin Soetirto salah satu pendiri ISPI menambahkan, dengan adanya tambahan ”ilmu-ilmu”, maka anggota ISPI bukan hanya sarjana peternakan, melainkan sarjana lain yang berminat dalam ilmu peternakan, misalnya sarjana biologi, dokter hewan, sarjana ekonomi, sarjana ilmu sosial dan sebagainya. Bagi Erwin, ISPI sebaiknya bukan hanya milik orang yang begelar sarjana peternakan tapi juga sarjana lain misalkan sarjana ekonomi namun mendalami ekonomi peternakan.

Mungkin pemikiran Erwin kala itu mirip dengan Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) yang anggotanya ada yang sarjana pertanian, peternakan, ekonomi.

Sebagaimana diketahui, Erwin Soetirto (alm) adalah salah satu pendiri ISPI dan sebagai tokoh ISPI yang menjadi sarjana peternakan pertama yang menjabat sebagai Dirjen Peternakan.

Dua puluh empat tahun kemudian, pada kongres ISPI VII di Cisarua, Bogor tahun 1998 mulai terjadi perubahan pandangan mengenai nama ISPI. Waktu itu diusulkan agar nama ISPI dikembalikan ke nama semula yakni Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia.

Alasan yang mengemuka waktu itu antara lain adalah karena secara umum organisasi yang menghimpun gelar sarjana menamakan dirinya sesuai nama gelar sarjana yang disandang. Misalnya organisasi sarjana ekonomi, menamakan dirinya Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI). Alasan kedua, kategori di Depdiknas nama sarjana tidak pakai tambahan ”ilmu-ilmu”, tapi cukup sarjana peternakan, sarjana pertanian, sarjana ekonomi dan lain-lain.

Perihal keberatan sebagian pihak bahwa menghilangkan kata ”ilmu-ilmu” akan membuat sarjana bidang lain tidak berminat bergabung dengan ISPI, menurut pihak yang mendukung penghapusan kata ”ilmu-ilmu” hal itu tidak menjadi masalah, karena dalam AD/ART dapat diatur mengenai anggota luar biasa dan anggota kehormatan. Melalui AD/ART ini jika ada sarjana lain yang berminat menjadi anggota ISPI, dapat mendaftar sebagai anggota luar biasa.

”ISPI sebagai Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia tidak berarti tidak menerima sarjana lain menjadi anggota. Mereka yang berminat masuk ISPI bisa diterima sebagai anggota luar biasa,” kata Muladno, Dirjen PKH 2015-2016 , yang aktif di ISPI sejak 1990an, menirukan pernyataan pihak yang mendukung penghapusan kata ”ilmu-ilmu”, sebagaimana disebut dalam buku “Catatan Perjalanan 40 Tahun ISPI”

Dalam kongres itu, pihak yang mengusulkan penghapusan kata ”ilmu-ilmu” kurang mendapat dukungan, sehingga sampai akhir kongres, nama ISPI tetap merupakan kepanjangan dari Ikatan Sarjana Ilmu-Ilmu Peternakan Indonesia.

Selanjutnya, dalam kongres ISPI VIII tahun 2002 di Bandung, pendukung penghapusan kata ”ilmu-ilmu” makin banyak, namun penghapusan kata ”ilmu-ilmu” tidak dapat dilakukan secara aklamasi. Akhirnya kongres memutuskan diadakan voting untuk menetapkan apakah kata ”ilmu-ilmu” dihapus atau tidak. Hasilnya, butir keputusan penting dari kongres ISPI di Bandung tahun 2002 adalah penghapusan kata ”ilmu-ilmu” alias kembali ke nama saat berdirinya ISPI tahun 1968. Sejak itulah sampai sekarang, ISPI secara resmi merupakan kepanjangan dari Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia.

Menurut catatan penulis, Erwin Soetirto dalam beberapa kesempatan
pasca kongres VIII di Bandung menyampaikan bahwa dirinya mendukung nama ISPI tetap sebagai Ikatan Sarjana Ilmu-Ilmu Peternakan indonesia, namun apa boleh buat , kongres sudah memutuskan ISPI menjadi Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia.

Begitulah diskusi hangat di dalam kongress ISPI yang perlu dijadikan catatan sejarah perjalanan ISPI.

Daftar Kongres ISPI 1968-2020

  1. Kongres I di Ciawi, Bogor, 20 Agustus 1968
  2. Kongres II di Cipayung, Bogor, 29 Juli-1 Agustus 1974
  3. Kongres III di Denpasar Bali, 22-24 februari 1979
  4. Kongres IV di Batu-Malang, Jatim, 28-30 Oktober 1983
  5. Kongres V di Yogyakarta, 22-23 Desember 1988
  6. Kongres VI di Denpasar-Bali, 12-14 Juli 1994
  7. Kongres VII di Cisarua-Bogor, 25-27 Nopember 1998
  8. Kongres VIII di Lembang-Bandung, 24-26 September 2002
  9. Kongres IX di Yogyakarta , 30-31 Agustus 2006
  10. Kongres X di Makassar, 5-6 Oktober 2010
  11. Kongres XI di Jogjakarta, 14-15 November 2014
  12. Kongres XII di Malang, 6-8 Desember 2018

Ditulis oleh Bambang Suharno berdasarkan Buku Catatan Perjalanan 40 Tahun ISPI dan sumber lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *