Beternak Domba Bebas Bau, Bisa Lho, Berikut Ini Tips dan Triknya

ISPI NEWS, Yogyakarta – Bagi sebagian mahasiswa tingkat akhir yang bakal lulus, bisa jadi masa selesai studi justru menjadi momok.

Mereka bakal dihadapkan dengan pertanyaan, mau kerja apa dan dimana.

Nah, setelah menuntaskan studi, mau tidak mau, suka tidak suka, mahasiswa memang harus segera memutuskan, apakah akan bekerja atau malah meneruskan studi ke jenjang strata 2.

Untuk yang memilih bekerja, setidaknya ada tiga opsi atau pilihan.

Mereka bisa bekerja di suatu perusahaan, menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) atau wiraswasta atau wirausaha.

Untuk pilihan ketiga, mereka bisa memilih sesuai dengan minat atau hobinya.

Bagi yang suka memasak, ya monggo. Yang suka memelihara hewan, ya dipersilakan saja.

Bidang peternakan, bisa dibilang cukup menjanjikan.

Banyak contoh pengusaha ternak yang berhasil mengembangkan bisnisnya. Banyak pula pilihan, hewan apa yang akan dibudidayakan.

Bisa dipilih sesuai niat, keinginan, ketersediaan modal, dana, lahan, jaringan pemasaran.

Misalnya ayam, sapi potong, sapi perah, kerbau, kambing atau domba.

Semua jenis hewan ini merupakan komoditas makanan yang selalu dibutuhkan masyarakat.

Selama masih ada manusia, ia akan selalu dibutuhkan untuk dikonsumsi.

Belum lagi, bila tiba waktu tertentu, seperti hari raya Idul Adha, peringatan Natal atau Tahun Baru, permintaan daging sapi, kambing dan domba mengalami lonjakan.

Nah, budi daya domba dinilai tidak membutuhkan modal besar.

Secara komersial, modal yang dibutuhkan untuk memelihara domba relatif lebih rendah dibandingkan hewan lainnya. Apalagi, peluang pasar daging domba masih besar, karena faktanya, saat ini kebutuhan daging domba memang belum bisa terpenuhi.

“Mengapa memilih memelihara domba? Karena domba adalah termasuk ternak kecil sehingga modal yang disediakan juga tidaklah sebesar ternak besar seperti sapi”, ujar Panjono, S.Pt., M.P., Ph.D, Dosen Fakultas Peternakan UGM, dalam Webinar Bincang Desa Seri ke 33 yang digelar “Desa Apps UGM” belum lama ini.

Panjono menambahkan, saat ini, di Yogyakarta, meski domba bukan makanan pokok, kebutuhan daging domba masih kekurangan sehingga memiliki peluang yang cukup tinggi.

Daging domba masih dicari sampai ke Sumatra Utara.

Menurut Panjono, proses budi daya domba terdiri dari 3 tahap.

Yaitu pembiakan. Kegiatan ini menghasilkan cempe (anak domba/kambing) lepas sapih.

Tahap kedua, yaitu pembesaran atau pemeliharaan cempe sekitar 6 bulan.

Dan tahap akhir, adalah pemeliharaan di masa usia 6-8 bulan saat domba siap dikonsumsi, sebelum bau khasnya muncul.

Menurut Panjono, kinerja dari budi daya domba komersial, dapat diukur dari beberapa aspek.

Aspek tersebut adalah interval kelahiran, litter size, mortalitas pra sapih, tingkat reproduksi, bobot sapih, dan produktivitas induk.

Pada tahap penggemukan, kinerja budi daya dapat diukur dengan menggunakan aspek konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, persentase karkas, dan kualitas daging.

“Agar kinerja budi daya baik dan memuaskan, maka pemilihan bibit/bakalan harus bagus, tata laksana pemeliharaan harus baik, dan adanya interaksi domba terhadap pola pemeliharaan,” jelas Panjono.

Untuk limbah yang dihasilkan dari beternak domba, menurut Panjono, beternak domba pasti akan menghasilkan limbah kandang domba yang terdiri dari feses (kotoran), urine dan sisa pakan.

“Kandang itu harus rajin dibersihkan agar tidak menimbulkan bau,” ungkapnya.

Jika kandangnya berbentuk panggung, dipastikan feses harus turun dari kolong, sehingga tidak tertinggal di panggung, karena bila feses tersebut kena urine menjadi basah, maka akan menimbulkan bau.

Panjono menambahkan, “Jadi, agar sukses memelihara domba harus memiliki passion –senangi dulu usaha kita, kalkulasi atau hitung-hitungan, kerja sama dengan pelaku usaha di hilir atau hulu, dan doa”, tutur Panjono.

Sementara itu, Vita Krisnadewi, S.Pt., M.Sc., Owner Sinatria Farm, selaku pelaku bisnis ternak domba moderen membenarkan, kebutuhan daging domba di Yogyakarta memang masih belum terpenuhi.

“Pada dasarnya, domba adalah peternakan rakyat yang mudah untuk dilakukan yaitu dengan selalu memastikan tidak sehat, selalu menjaga kebersihan kandang, keamanan, dan kenyamanan kandang bagi ternak, dan pemberian pakan yang cukup baik dari segi kualitas dan kuantitasnya,” jelas Vita.

Sinatria Farm yang dimiliki Vita, menggunakan prinsip kandang sistem terkoleksi yaitu memisahkan urine dan feses domba.

Dengan pemisahan bertujuan untuk mengondisikan bau feses.

Selain itu, aplikasi data terintegrasi tersebut juga digunakan untuk mempermudah pemantauan ternak.

“Dengan adanya sistem kandang terkoleksi kandang dan lingkungan menjadi nyaman dan bebas bau, mudah membersihkan dan pemanenan, ternak lebih sehat dan mudah dalam pengamatan, serta dapat menjual pupuk setiap hari,” ujar Vita.

Vita menambahkan, konsep kandang dengan sistem terkoleksi, pada dasarnya tidak mengganggu warga sekitar kandang, karena kandang yang digunakan tidak berbau.

“Sebenarnya yang menimbulkan bau adalah urine domba karena adanya amoniak di urine. Maka harus dipisahkan antara urine dan feses,” jelad Vita.

Kandang terkoleksi adalah kandang panggung, yang di bawahnya dibuatkan instalasi terkoleksi dengan adanya jaring yang miring dan fiber.

Kandang ini juga dilengkapi dengan jalur penampungan yang berbeda antara feses dan urine.

Ada beberapa manfaat dengan menerapkan kandang dengan sistem terkoleksi, antara lain: 1. Kandang dan lingkungan nyaman bebas bau.

  1. Mudah dalam pembersihan dan pemanenan kohe.
  2. Ternak lebih sehat.
  3. Mudah dalam pengamatan kesehatan ternak.
  4. Dapat menjual pupuk setiap hari.Vita mengajak para pemuda untuk berkontribusi ke sektor peternakan, karena saat ini permintaan ternak naik.

Ironisnya, kondisi tersebut tidak mampu direspons dengan suplai yang cukup oleh para peternak tradisional.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *