Dampak Teknologi: Broiler Modern yang Cenderung Makin Bungkuk

Disusun oleh: M. Chairul Arifin

Apabila Anda berpapasan dengan kendaraan pengangkut ayam ras khususnya ayam pedaging, tidakkah Anda perhatikan bentuk dan morfologi tubuh ayam tersebut ? Si Blorok yang warna putih tersebut kalau kita perhatikan dari waktu ke waktu nampaknya yang terkurung dalam cage atau sangkar yang dibawa oleh truk² pengangkutnya dalam keadaan yang semakin bungkuk saja. Mahluk yang siap² disembelih untuk berbagai jenis cita rasa ayam itu ternyata sudah tidak lagi berdiri tegap, mendongak seperti dulu waktu ia baru berkembang. Perubahan ini nyata terlihat beberapa tahun terakhir.

Membusung

Apabila dibandingkan saudara yang sekerabat yaitu dengan ayam kampung yang lincah berlarian kesana kemari mencari makanan sendiri, mengerami telurnya, maka broiler ini sudah semakin tak kuat lagi menopang tubuh dada yang tumbuh membusung dan kaki bawahnya yang tumbuh “mengecil” sehingga postur tubuhnya seolah tumbuh kurang seimbang. Keadaan yang demikian ini memang diperlukan untuk mendapatkan daging yang lebih gemuk dan tekstur sesuai permintaan pasar dan Konsumen.

Ceritera tentang semakin bungkuknya ayam ras itu cukup beralasan. Alasannya sebagai akibat perkembangan tehnologi. Dulu masa panennya waktu pertama kali diintrodusir sekitar tahun 1978 an di Indonesia, waktu Bimas Ayam masa panennya 3 bulan dari fase starter, grower sampai finisher . Sekarang sudah dapat dipanen pada umur 45 hari di tahun 1990 an dan memendek jadi kurang 45 hari. Berkembang terus semakin pendek jadi 35 hari dengan berat badan yang hampir sama yaitu 1,3-1,6 kg. Kini di era industri 4.0 sudah dapat tercipta broiler modern yang semakin pendek lagi panennya yaitu hanya 3 Minggu dengan berat yang sama.

Menakjubkan

Perkembangan ini membuat orang takjub. Akhirnya orang berpendapat bahwa broiler modern ini adalah ternak yang jauh lebih efisien dari ternak sapi sehingga berpotensi menjadi daging penggantinya. Broiler inipun terbukti dapat menimbulkan revolusi pangan hewani bangsa kita yang semula (tahun 1960 an) masih di dominasi daging merah (sapi), red meat 55-60% sekarang berubah jadi hampir 70% daging putih atau *white meat (broiler). Perkembangan didunia juga menunjukkan hal yang sama. Kecepatan tumbuh populasinya sudah tertinggal jauh dibanding broiler. Di Indonesia yang semula hanya berjumlah ratusan ribu ekor dipelihara secara sambilan kini jumlahnya sudah lebih dari tiga milyar ekor. Agribisnis perunggasan menjadi contoh yang paling baik terintegrasinya usaha dari segmen hulu, onfarm dan hilir.

Efisiensi penggunaan pakan oleh tubuh broiler modern berkembang semakin membaik, harga yang relatif terjangkau dan diterima sebagai pangan oleh semua suku bangsa dan agama, sehingga konsumsinya makin meningkat. Selain itu tubuhnya berkemampuan dari jumlah pakan yang diberikan lebih sedikit tapi menghasilkan bobot daging yang relatif besar terutama busungnya dada si broiler. Para ahli dari profesi kedokteran hewan dan tenaga peternakan bidang perunggasan mengenalnya ini sebagai rumus feed conversion ratio semakin berumur muda tapi berpenampilan body ibaratnya Ade Rai, binaragawan.

Tantangan broiler moderen

Tapi broiler modern Indonesia bakal menghadapi tantangan dengan Gallus domesticus sejenis dari Brazil. Saudaranya ini akan memasuki Indonesia dalam waktu dekat untuk mendampingi busungnya dada broiler modern. Kabarnya ayam Brazil ini jauh lebih efisien dibandingkan dengan broiler Indonesia sehingga harganya lebih murah lagi. Brazil memang terkenal sebagai salah satu penghasil broiler sekaligus exportir. Indonesia bertekuk lutut di panel² sidang WTO yang akhirnya meloloskan daging broiler Brazil di tengah surplusnya daging si bungkuk ini.

Jadi, broiler modern yang semakin manja itu kini makin menjadi cengeng saja yaitu semakin dekatnya dia dengan tempat makan dan minumnya yang lebih rendah dari nenek kakeknya dulu di berbagai kandang closed house yang diatur temperatur dan pencahayaan serta kelembabannya, dan rasio pakannya telah diatur sedemikian rupa, karena kalau tidak si anak tersebut ngambek tidak mau menghasilkan daging dada yang busung dan bertekstur lembut ibaratnya buah dada. Pokoknya bagaimana menciptakan broiler modern yang lebih pemalas bergerak untuk menghemat energinya yang dapat disimpan didada untuk kepentingan konsumen.

Selamat menikmati ayam gedebug, ayam geprek, ayam jerit nelongso, ayam tembak, ayam gepuk dan masakan cita rasa ayam lainnya.

Depok, 22 Mei 2021
M. Chairul Arifin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *