Ir. Alirahman, MSc, PhD, Sarjana Peternakan Pertama yang Menjadi Menteri

Masyarakat Indonesia boleh saja kurang mengenal sosok Dr. Alirahman, namun Sarjana Peternakan warga ISPI di seluruh nusantara hendaknya mengenal tokoh yang satu ini. Karena dia adalah sarjana peternakan yang pertama menduduki Jabatan Menteri. Uniknya dia bukan menjadi Menteri yang mengurusi peternakan dan pertanian, melainkan Menteri Sekretaris Negera, di era Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur). Sejauh ini Mensesneg dikenal sebagai posisi Menteri yang sangat strategis di dalam manajemen kenegaraan.

Dikutip dari https://sejarah-bangsa-kita.blogspot.com/ dan wikipedia Indonesia, Alirahman lahir di Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, 10 Oktober 1945. Ia anak tertua di keluarganya. Setamat SMA ia melanjutkan kuliah di IPB, lulus sarjana peternakan tahun 1973.

Semasa mahasiswa ia aktif di organisasi kemahasiswaan. Periode 1970–1972, ia duduk sebagai sekretaris jenderal Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM) IPB. Tahun 1971-1972, ayah dua anak (Dahlia Agustini Ali, kelahiran Jakarta, 5 Agustus 1975, dan Hilman Ali, kelahiran 21 September 1976) ini terpilih sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) Cabang Bogor. “Sejak saat itu, saya mengenal Nurcholish Madjid dan mengaguminya,” kata dia. Selanjutnya tahun 1972-1973, ia dipercaya sebagai Ketua Dewan Mahasiswa IPB.

Selepas meraih gelar sarjana peternakan IPB tahun 1973, Alirahman langsung diterima di Bappenas. Bappenas merupakan pilihan di antara 4 instansi yang memanggilnya termasuk Bank Indonesia. Awalnya ia tak ingin bekerja sebagai PNS. Tetapi dia katakan kepada atasan untuk mencoba dahulu dua minggu. Hasilnya, ternyata Alirahman cocok hingga akhirnya menyukai karena di Bappenas para pegawai bersaing terbuka.

Tahun 1976 mendapat kesempatan kuliah S2 tetapi dilewatkan, karena belum menikah. Baru mengambil kesempatan kedua tahun 1980 saat setahun menjabat Ketua Umum PB ISPI. Dua tahun meraih gelar Master dan langsung meneruskan program Doktor hingga 1985 di Colorado State University.

Tahun 1986 sudah menjadi Kepala Biro Pertanian dan Pengairan, Bappenas. Jabatan terakhir di Bappenas adalah Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perencanaan Pembangunan (Pusdiklat Renbang) tahun 1999 sebelum menjadi Mensesneg (1999-2000) era Presiden Gus Dur.

Selama berkarya di Bappenas, banyak gagasan baik melalui dirinya maupun ISPI, yang akhirnya diwujudkan dalam kebijakan pemerintah. Tahun 1974an saat awal menjadi PNS, membantu Kepala Biro Pertanian dan Pengairan menyusun konsep pelaksanaan program Bimbingan Massal (BIMAS) Ayam. Tahun 1975 memprakarsai penyusunan konsep Inseminasi Buatan Sapi. Tahun 1986 merintis proyek kemiskinan untuk mendapat pendanaan dari IFAD. Hasilnya adalah perundingan proyek Peningkatan Pendapatan Pertanian Nelayan Kecil (P4K) tahun 1997. Ia juga berperan menyusun konsep Repelita V dan VI dan lainnya.

“Selama di Bappenas, saya sangat terkesan dengan Prof. Widjojo Nitisastro. Dia selalu mendorong dan mendidik saya untuk maju. Dia amat teliti soal akurasi data. Dia pun terkadang mengirim salinan buku-buku ekonomi ke saya,” tuturnya.

Menyinggung masa awal ketika ditugaskan Presiden K.H. Abdurrahman Wahid sebagai Menteri-Sekretaris Negara, Alirahman menyatakan sempat tidak tahu penunjukan itu. Ketika namanya disebut masuk Kabinet Persatuan Nasional yang diumumkan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri beberapa hari setelah usainya SU MPR 1999, Alirahman sedang rapat di Badan Kepegawaian Negara (BKN). Waktu itu posisinya deputi Perencanaan dan Pengembangan Kepegawaian.

Kiprah di ISPI
Dalam buku “40 tahun Perjalanan ISPI” disebutkan bahwa dekade 1970-1980 boleh dibilang merupakan masa keemasan sarjana peternakan. Alumni Fakultas Peternakan banyak dicari untuk mengisi job di instansi pemerintah maupun swasta. Tidak saja di bidang peternakan atau pertanian, tetapi juga mampu mengisi lowongan di bidang lain.

ISPI yang kala itu berada di masa awal pendirian juga langsung menemui masa keemasannya. Bahkan dalam era berikutnya, para komandan ISPI diamanahi menjabat posisi strategis di pemerintahan. Sebut saja Ir. Erwin Soetirto menjabat Dirjen Peternakan , dan Ir. Alirahman, MSc., Ph.D. sendiri yang dipercaya menduduki jabatan Sekretaris Negara 1999-2000.

Alirahman sempat menjadi Ketua Umum PB Ikatan Sarjana Ilmu-ilmu Peternakan hasil Kongres III di Denpasar Bali, 22-24 Februari 1979. Namun, baru setahun periode kepengurusan PB ISPI 1979-1983 berjalan, Alirahman tidak bisa aktif lantaran mendapat tugas belajar dari Bappenas ke Amerika dari tahun 1980-1985.

Roda organisasi lantas dipimpin sementara oleh Ir. Soepodo Budiman yang oleh Kongres waktu itu ditunjuk sebagai Sekjen. Periode kepengurusan pun tidak utuh, hingga tahun 1981-1983 berdasarkan catatan PB ISPI Ketua Umum definitif diangkat Ir. Suchriyan (Yayan) Danu Atmadja dan periode berikutnya dipimpin lagi oleh Ir. Djarsanto (1983-1988).

Meski belum genap setahun memimpin, Alirahman mampu meletakkan 3 sistem nilai. Sistem nilai ini mengangkat posisi tawar sarjana peternakan sehingga ’suaranya’ langsung ’didengar’ oleh pemerintah.

“Menggerakkan organisasi tanpa menanamkan sistem nilai tidak mungkin berjalan. Fungsi pemimpin sangat menentukan dalam membuat sistem nilai tersebut,” ujar Alirahman sebagaimana dikutip dalam buku 40 Tahun Perjalanan ISPI (1968-2008).

Terdapat tiga hal dalam sistem nilai yang ditanamkan. Pertama, ISPI harus mampu mewarnai kebijakan pemerintah. Sarjana peternakan harus berbicara mengenai kebijakan pertanian secara keseluruhan atau kebijakan peternakan secara khusus. Membangun manusianya, memanfaatkan sumberdaya alam (SDA) yang dimiliki dan membangun kemandirian dalam mencukupi kebutuhan konsumsi protein hewani.

Kedua, meningkatkan derajat kompetensi dan profesionalisme melalui pelatihan dan seminar serta mendorong sarjana untuk selalu bejalar dan meningkatkan diri. Caranya melanjutkan studi ke S2 dan S3 baik untuk karyawan di pemerintah maupun swasta. Sarjana peternakan mempunyai alternatif menguasai ilmu ekonomi, sektor dengan opportuniy cost tinggi.

Menurutnya, seorang sarjana peternakan tidak harus kerja di bidang peternakan, ada yang di wartawan, anggota legislatif, berkarir di perbankan dan lainnya.

Sistem nilai ketiga dalam kebijakan PB ISPI periode Alirahman, adalah meningkatkan silaturahmi. Ketiga sistem nilai ini dipompakan kepada ISPI sehingga tidak peduli almamater mana yang penting punya kontribusi terhadap pembangunan peternakan.

Kedekatan para pengurus ISPI waktu itu tidak lantas membuat para individu memanfaatkan ISPI untuk kendaraan politik. Pemikiran ini justru ditentang oleh Alirahman. Dia tidak pernah menggunakan untuk karir, tetapi untuk menolong teman meningkatkan kompetensi.\

Alirahman meninggal dunia tanggal 16 Januari 2016, dimakamkan di TPU Jeruk Purut Jakarta Selatan. Karya dan pengabdiannya hendaknya menjadi motivasi dan pelajaran bagi para sarjana peternakan generasi sekarang dan selanjutnya.***

Karir Alirahman

  • 1999-2000 Menteri Sekretaris Negara
  • 1995–1999 Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perencanaan Pembangunan (Pusdiklat Renbang), Bappenas
  • 1994–1995 Kepala Biro Administrasi Pendidikan dan Pelatihan, Bappenas.
  • 1994–1995 Banasmen II, Penanggulangan Kemiskinan, Kantor Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional.
  • 1994–1995 Kepala Divisi I Overseas Training Office (OTO), Bappenas.
  • 1993–1994 Kepala Biro Pertanian, Pangan, dan Kehutanan, Bappenas.
  • 1986–1993 Kepala Biro Pertanian dan Pengairan, Bappenas.

Penulis : Bambang Suharno

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *