Mandegnya Inovasi Bahan Baku Pakan Substitusi Import - Autokritik


Rubrik: opini_pakar | 2020-04-08



 
Mandegnya Inovasi Bahan Baku Pakan Substitusi Import - Autokritik
Mansyur
Associate Professor Pada Fakultas Peternakan Unpad


Coba kita baca karya ilmiah bidang nutrisi, terutama nutrisi unggas, selalu diawali dengan kata-kata bahwa peternakan kita bermasalah dengan penyediaan pakan yang mahal dan bahan baku pakan selalu berbasis import sebagai tudingan biang keroknya, akibatnya pengeluaran untuk pakan mencapai proporsi yang tertinggi usaha ternak kurang efisien dan mempunyai daya saing yang rendah. Ini merupakan permasalahan klasik yang sampai hari ini tidak ketemu jawabannya, hampir puluhan tahun kita tersesat tidak menemukan solusi pengembangan bahan baku pakan yang lebih murah dan efisien.
Sepanjang waktu itu bukannya tidak ada penelitian tentang penggunaan dan pengganti bahan baku import, nyatanya hasil yang didapatkan hanya memuaskan pada skala laboratorium tetapi tidak siap dalam skala industri.  Setidaknya ada beberapa alasan mengapa hal tersebut tidak bisa diindustrialisasi, antara lain bahan baku pengganti tidak mempunyai basis produksi dan industrinya. Kedua, bahan baku pengganti tidak siap pakai, sehingga membutuhkan proses tambahan yang ribet dan membutuhkan biaya tambahan. Kalaupun ada barangnya mahal sehinga tidak kompetitif dan mahal. Selanjutnya adalah penerimaan pasar, kadang kala produk yang dihasilkan kurang memenuhi harapan pengguna. Terakhir, bahan baku yang ditawarkan tidak stabil dalam kualitas dan jumlahnya sehingga mengakibatkan terganggunya proses produksi dan tidak efisein. 
Ketahanan bahan baku pakan sangat rapuh, dari 20 jenis jenis bahan pakan yang digunakan sekitar 16 jenis item berbasis import.  Bukan tidak percaya pada bahan baku lokal tetapi sampai hari ini bahan baku lokal masih jauh dari harapan pengguna, terutama dalam ketersediaan, kontinuitas, kualitas, dan harga yang kompetitif. Akhirnya penggunanya belum menjadi pilihan utama.  Pada sisi lain, berdasarkan GPMT (2019) besaran biaya untuk kebutuhan bahan baku pada industri pakan mencapai 85%, dan besaran konsumsi pakan setiap tahunnya mengalami pertumbuhan yang meningkat besarnya 6%.  Disinilah ada peluang dan tantangan yang sangat besar sekali untuk mencapai kemandirian pakan.
Bahan baku yang penggunaanya paling besar adalah jagung dan bungkil kedelai, masing-masing sekitar 50-60% dan 20-30%. Penggunaan kedua bahan baku ini mencapai 80%. Tetapi sayangnya hanya baru jagung yang mendekati keamanan stok dalam negeri, penggunaan pasokan jagung dalam negeri sudah mendekati 90-95% dalam pakan, sedangkan bungkil kedelai masih 100% tergantung dari pasokan import.  Walaupun begitu, jagung masih menempati urutan kedua bahan baku pakan asal bijian yang dimport, tentu saja posisi pertamanya diduduki oleh bungkil kedelai, sedangkan ketiga dan kempatnya adalah DDGS dan CGM (GPMT, 2019). 
Kemampuan memproduksi dan menyediakan kedua komoditas ini setidaknya sudah dapat menjamin keamanan pakan lebih stabil. Inovasi terbesar harusnya difokuskan untuk memenuhi kebutuhan kedua bahan baku ini. Strategi pemenuhan yang dilakukannya pun semuanya hampir sudah tahu, yaitu swasembada atau menyubstitusi dengan bahan lain yang mempunyai nilai sama, baik ketersediaan, manfaat biologis, maupun ekonomisnya. 
Jagung sebagai komponen terbesar dalam pakan sebenarnya secara perlahan tapi pasti sudah mulai mendekati pada ketersediaan dan kecukupan bahan baku pakan. Importnya makin kesini makin menurun karena makin meningkatnya produksi jagung dalam negeri. Ataupun bisa dikarenakan strategi industri dalam menggunakan jagung pada formulasi pakan, hal ini dikarenakan harga jagung dalam negeri kita masih relatif mahal.  Pada periode tahun 2019, harga jagung sampai ke pabrik pernah mencapai harga Rp 6.100,00 per kg, padahal harga di petani jagung tidak pernah lebih dari Rp 3.500,00 per kg. Tentunya harga seperti itu tidak menggembirakan industri pakan dan peternak. Bahkan para konsumen pun terkena rentetannya. Walaupun begitu petani jagung hanya bisa mendengar kabarnya tetapi tidak menikmati harga tersebut. 
Penurunan harga jagung dapat dilakukan dengan cara peningkatan produktivitas jagung dan menurunkan biaya produksi dan biaya logistik jagung. Peningkatan produksi jagung masih sangat memungkinkan secara agronomis karena didukung oleh ketersediaan  lahan, kecocokan agroekosistem, dan kemudahan akses sarana produksi. Apalagi kalau kita melihat model GAEZ (IIASA, 2009) bahwa produktivitas lahan di Asia masih berada pada kisaran 45% dari potensi produktivitas tertingginya. Lahan masih punya peluang untuk ditingkatkan produktivitas. Inovasi peningkatan produksi yang dilakukan oleh praktisi pertanian dari Cepu Jawa Tengah melalui peningkatan kapasitas fotosintesis berpotensi meningkatkan produktivitas jagung. Peningkatan produksi ini pastinya akan meningkatkan ketersediaan dan menurunkan harga pokok produksi.  
Biaya produksi yang membebani petani jagung antara lain bibit, pupuk, obat-obatan, dan tenaga kerja. Pada era pasar bebas pertanian, penggunaan bibit berkualitas didefinsikan dengan label biru, tanah yang subur diartikan pemupukan kimia, pengendalian penyakit lebih cenderung sebagai pembasmian dengan obat obatan. Kesulitan dan langkanya tenaga kerja pertanian terjadi dimana-mana, sedangkan mekanisasi tidak semuanya menjawab kebutuhan tenaga kerja. Tenaga kerja pertanian menjadi mahal.  Itu semua meningkatkan biaya, termasuk dalam biaya produksi jagung.
Biaya kedua yang membuat harga jagung tinggi adalah biaya perpindahan, karena rantai tata niaga yang terlalu panjang, setidaknya jagung sebelum sampai ke gudang pabrik pakan mengalami transit dua kali bahkan lebih. Biaya transportasi dan bongkar muatnya saja tidak kurang dari Rp 400,00/kg, pelaku tata niaga akan mengambil keuntungan berkisar Rp 50 – 500,00/kg tergantung banyakna barang. Biasanya makin besar volume pengambilan keuntungan akan lebih kecil. Tetapi makin banyak perpindahan akan meningkatkan biaya lebih besar lagi. Perpindahan tiga kali saja sudah dapat meningkatkan harga jagung sekitar 1.500,00/kg. Setidaknya kalau tidak dapat memutus rantai tata niaga, harus dapat meminimalkan biaya logistiknya. Ini juga jelas masalah klasik yang sudah pada tahu tetapi solusinya tidak mudah untuk diterapkan, biasa karena terlalu banyak kepentingan yang bermain atau juga solusi yang ditawarkan tidak membuat semua orang berbahagia. 
Kalau melihat struktur penggunaan jagung, bahwa penggunaan untuk pakan mencapai 66,37%, industri pangan 23,96%, dikonsumsi langsung 2,41%, dan sisanya untuk keperluan benih dan lainnya (Survai Jagung Pusdatin, 2015). Melihat data tersebut persaingan dengan kebutuhan manusia untuk pangan tidak tinggi, apalagi dengan yang dikonsumsi langsung sangat kecil sekali. Penggunaan untuk pakan masih sangat aman dilihat dari persaingannya dengan keperluan pangan manusia. Hal ini berbeda jauh dengan bahan pakan kedua, yaitu bungkil kedelai. Menjawab ketersediaan bungkil kedelai dengan suplai dalam negeri seperti membuat kolam dengan sendok makan, bisa tapi entah kapan bisanya. Alasnnya  produksi kedelai kita jangankan untuk dibuat minyak sayur yang menghasilkan produk sampingan bungkil kedelai, untuk membuat tahu dan tempe saja kedodoran. Industi minyak sayur indonesia ada yang lebih efisein dibandingkan dengan menggunakan kedelai, setidaknya kita punya minyak kelapa sawit dan minyak kelapa. Peningkatan produksi pakan akan memperbesar ketergantungan terhadap impor bungkil kedelai, karena kita tidak mempunyai basis industri pengolahan minyak kedelai, sementara alasan untuk memproduksi minyak kedelai hampir tidak ada. Strategi substitusi harusnya menjadi pilihan untuk bahan baku ini, bukan memproduksi sendiri. 
Adakah bahan baku yang berpotensi dapat menggantikan bungkil kedelai baik secara jumlah maupun nilai biologisnya dalam pakan? Kalau melihat potensi produksi tentunya setidaknya ada dua industri yang dapat memproduksi bahan baku untuk mensubstitusi bungkil kedelai, yaitu industri minyak sawit dan industri pengolahan jagung. Sebagai negara yang memproduksi CPO terbesar di dunia, tentunya kita mempunyai produk sampingan industri sawit yang sangat banyak, permasalahan yang dipunyai adalah nilai biologisnya yang belum setara. Sentuhan inovasi teknologi yang efisien sangat diperlukan untuk mengubah produks sampingan industi sawit dapat setara atau setidak mendekati nilai biologis dari bungkil kedelai. Selanjutnya pengembangan industri pengolahan jagung (seandainya produksinya melimpah) baik untuk pangan maupun energi dapat menghasilkan produks sampingan seperti DDGS, CGM, dan  CGF dapat apabila disentuh dengan inovasi teknologi berpotensi menggantikan bungkil kedelai. 
Terakhir, inovasi akan selalu dibutuhkan.  Mari kita fokus untuk meningkatkan produksi jagung yang efisensi dan logistik yang lebih murah, serta mengoptimalkan bahan baku yang berbasis industri untuk mendekati nilai biologis bungkil kedelai. Peran ahli nutrisi pakan dan tanaman yang dibutuh sekali. Para ahli tanaman pakan harus sudah membuka diri untuk riset dalam tanaman pakan untuk unggas, jangan hanya berkutat pada tanaman pakan untuk herbivora saja. 

 

SEKJEN PB ISPI

Artikel Lainnya