Ketika Gama Abilawa kembali beraksi….

Persiapan penyembelihan dengan Gama Abilawa

YOGYAKARTA, ISPINews. Pagi itu, suasana masjid Al Ishlaah tidak seperti biasanya. Tentu berbeda, karena hari itu adalah tepat hari raya Idul Adha 1442 H, yang jatuh pada hari Selasa, 20 Juli 2021. Hari itu, usai melaksanakan salat Ied, panitia kurban bersama warga masyarakat di Kampung Nitikan, Sorosutan, Umbulharjo, kota Yogyakarta, melakukan penyembelihan hewan kurban.

Dulu, memang terbilang repot ketika harus merebahkan sapi yang akan disembelih. Dibutuhkan beberapa tenaga laki-laki untuk menjinakkan sang sapi hingga siap disembelih. Namun, kondisi tersebut berangsur hilang setelah kehadiran Gama Abilawa. Setelah tahun lalu, pada tahun ini, untuk kedua kalinya, masjid Al Ishlaah menggunakan Gama Abilawa.

Gama Abilawa diciptakan untuk meningkatkan kesejahteraan hewan kurban pada saat disembelih serta menjamin keamanan panitia kurban. Hal itulah yang mendorong tim dosen Fakultas Peternakan (Fapet) UGM yang diketuai Ir. Panjono, S.Pt, MP, PhD, IPM, ASEAN. Eng mengembangkan portable restraining box (alat perebah sapi portabel). Alat yang terbuat dari besi/baja pipa ini, berwujud sebuah kandang jepit berbentuk persegi panjang yang dilengkapi dengan roda, sehingga dapat dipindah-pindah dengan mudah. Dengan sistem portable, maka restraining box juga bisa digeser dan bisa digunakan di beberapa lokasi yang berbeda secara bergiliran.

Penyembelihan Sapi dengan Gama Abilawa

Menurut Panjono, selama ini, restraining box hanya digunakan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Sejauh ini, memang belum banyak penyelenggara penyembelihan hewan kurban yang mempunyai portable restraining box, karena tidak melakukan pemotongan hewan kurban sepanjang tahun,  sehingga penggunaannya menjadi tidak efisien.

”Nah, tanpa portable restraining box ini, untuk merebahkan sapi seringkali dilakukan tanpa cara yang benar, bahkan cenderung kasar, sehingga mengakibatkan sapi mengamuk. Sapi yang mengamuk ini akan sulit dikendalikan sehingga dapat melukai petugas atau orang-orang yang berada di sekitar lokasi penyembelihan,” ujar Panjono.

Ketua ISPI PC Yogyakarta ini juga berharap, portable restraining box ini bisa menjadi terobosan inovatif dan produktif untuk membantu pihak-pihak yang tidak menyelenggarakan penyembelihan sepanjang tahun, seperti panitia kurban.

Lantas bagaimana cara mengoperasikan Gama Abilawa ? Sapi yang akan disembelih, digiring masuk dengan tenang ke dalam kotak, tanpa menyebabkan stres. Saat sapi telah masuk ke dalam kotak tersebut, pintu kemudian ditutup dan kotak diputar dengan manual, sehingga posisi sapi sesuai dengan posisi penyembelihan. Dengan demikian, sapipun siap disembelih. Proses perebahan sapi dapat dilakukan dengan cepat, tak lebih dari 3 menit. Sapi tetap tenang dan petugas penyembelihan hewan juga tetap aman.

Portable restraining box mulai digunakan pada tahun 2019 namun gagal berfungsi. Selanjutnya, alat tersebut disempurnakan dan berhasil digunakan pada tahun 2020 dan tahun ini. Menurut ketua panitia kurban masjid Al Ishlaah, Uswat Chasani, S. Ag, Gama Abilawa memang sangat praktis, baik dari sisi tenaga dan waktu yang digunakan jauh lebih cepat, bila dibandingkan dengan sebelum menggunakannya. Tempat penyembelihannya tidak memakan tempat. “Dari sisi tenaga, sebelum menggunakan alat ini, tenaga yang dibutuhkan minimal 6 orang utk menjatuhkan hewan kurban, namun dengan alat ini, hanya butuh 3 orang saja. Semua proses penyembelihan 9 ekor sapi,  sudah selesai sebelum jam 12 siang. Padahal sebelumnya, selesai di atas jam 13.00,” jelas Uswat Chasani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *