Makna Hari Pangan se Dunia bagi Dunia Peternakan

Prof. Dr. Suyadi

Pangan bergizi, keluarga sehat, rakyat sejahtera….
Begituluah kira-kira kata yang tepat untuk menyadarkan para insan peternakan pada peringatan Hari Pangan dunia, World Food Day 2020” agar terus selalu meningkatkan perannya, tak kenal lelah sehingga sampai pada suatu tujuan mampu memberikan layanan bidang peternakan secara professional yang signifikan bisa dirasakan oleh masyarakat luas dan bangsa. Bukan itu saja, namun mampu memberikan kesejukan iklim usaha, iklim bisnis, iklim akademik, serta iklim konsumen, yang berdaulat.

Arti kesejukan di sini adalah bahwa dunia peternakan menjadi poros utama dalam menyediakan pangan bergizi asal hewani yang cukup, stabil dalam arti supply-demand dan harga, dan terjangkau oleh semua warga dan masyarakat yang memerlukan. Di sisi lain juga perlu ada upaya promosi untuk penguatan dan perluasan tingkat konsumsi pangan asal ternak sehingga ada peningkatan baik adanya peningkatan tingkat konsumsi (susu, telu, daging, dan bahan lain yang berkaitan) maupun perluasan dan pemerataan konsumen.

Hakekat peternakan bagi masyarakat dan bangsa adalah sama melekatnya dengan kehidupan manusia itu sendiri. Artinya, selama masyarakat berkembang, dinamis dan ingin maju, maka pangan yang cukup dan berkualitas masih tetap selalu dibutuhkan. Ini juga secara otomatis termasuk pangan dari produk-produk usaha peternakan. Saat ini dirasakan selalu adanya trend masyarakat yang berkeinginan untuk meningkatkan mutu konsumsi pangan, terutama dari hasil ternak. Dengan bergantinya generasi jaman sekarang, maka terjadi suatu pergeseran pola konsumsi yang meliputi 3 hal pokok yaitu jumlah konsumsi, pola dan jenis konsumsi, dan sistem konsumsi.

Jumlah konsumsi mencerminkan adanya trend peningkatan konumsi pangan asal ternak terutama bagi generasi muda. Anak-anak muda saat ini, terutama di wialayah perkotaan sudah tidak bisa dipisahkan lagi dengan konsumsi panga asal ternak dalam menu makan sehari-hari. Kalau ini kita promosikan terus-menerus maka akan menjadi suatu kebiasaan yang bisa menggeser kebiasaan konsumsi pada generasi sebelumnya. Pada generasi muda, mengkonsumsi lauk-pauk asal ternak bukanlah suatu hal yang istimewa lagi seperti yang dirasakan oleh para orang dewasa / usia lanjut di masa mudanya dulu. Maka pembudayaan (habit) tingkat konsumsi ini perlu kita jaga dan kembangkan.

Pola dan jenis konsumsi mencerminkan frekuensi dan jenis produk yang dikonsumsi. Pada saat ini trend kaum muda untuk mengkonsumsi pangan asal ternak ada suatu perubahan, yang dari kebiasaan generasi sebelumnya yang banyak mengkonsumsi produk peternakan dalam bentuk whole product (produk utuh- seperti telur, daging, susu) berubah menjadi produk olahan dengan berbagai macam bentuk dengan kombinasi bahan lain. Ini menginspirasi kita semua untuk berkreasi dan berinovasi agar menemukan dan mampu memproduksi produk-produk peternakan yang lebih variatif dan diminasi oleh masyarakat.

Sistem konsumsi mencerminkan adanya pola konsumen dalam memperoleh produk peternakan untuk siap dikonsumsi. Memang juga datang masanya suatu generasi saat ini dimana para konsumen menginginkan makanan yang bukan hanya siap saji, namun juga siap santap. Dalam istilah lain mengandung unsur “mudah, cepat, nikmat, murah”. Ini memberikan suatu inspirasi sekaligus tantangan bagi kita semua agar para insan peternakan mampu untuk memproduksi produk peternakan yang efisien dan berkelanjutan agar bisa menghasilkan suatu produk yang sesuai dengan keinginan konsumen. Setidaknya ada suatu proposional keuntungan (win-win) antara produsen dan konsumen.

Timbul berbagai macam pertanyaan dalam menjawab tantangan tersebut adalah bagaimana kondisi peternakan kita saat ini? Bagaimana tingkat efisiensi usaha peternakan kita saat ini? Bagaimana tingkat kestabilan system usaha peternakan saat ini? Dan bagaimana tingkat keberlanjuta system usaha kita? Sedangkan di sisi lain, kita juga masih dihadapkan tingkatn persaingan antar usaha, dilemma kebijakan dan kepentingan, serta persaingan global yang diperkirakan bisa mengusik ketenagan iklm usaha di dalam negeri.

Terlepas itu semua, saya berpendapat bahwa Peringatan Hari Pangan Dunia 2020 ini dapat kita jadikan sebagai suatu momen positif untuk membenani system peternakan nasional, serta membangun tekad kebersamaan antar para pemangku kepentingan bidang peternakan (Pemerintah, Organisasi Profesi seperti PB ISPI, Insinyur Peternakan, akademisi, peneliti, praktisi, konsumen) untuk bersama berkontribusi dalam pembangunan peternakan nasional sesuatu dengan kapasitas dan bidang masing-masing. Semoga jaya peternakan Indonesia ke depan….!!

Penulis adalah Guru Besar pada Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *