MANDIRI KARENA SASPRI

Muladno
Guru Besar IPB. Anggota AIPI. Wali Utama SASPRI. Penasehat YAPPI

Ada dua ucapan penting dari seorang Wali SASPRI dalam suatu percakapan dengan aparat pemerintah di suatu kabupaten. Wali adalah ketua Perkumpulan Solidaritas Alumni SPR Indonesia (SASPRI) di tingkat kawasan/kecamatan. Ucapan pertama berupa pertanyaan yang dilontarkan dalam suatu diskusi dengan birokrat adalah “Apa yang dapat kami bantu Bu?”. Yang ditanya tidak bisa menjawab dengan wajah datar dan rada kebingungan. Pertanyaan itu tidak biasa didengar sebelumnya karena dilontarkan oleh seorang peternak kepada aparat dinas peternakan. Yang biasa terjadi adalah sebaliknya, yaitu “Bu, apakah ada bantuan buat kami?”. Pertanyaan bernada minta bantuan ini tidak hanya diucapkan oleh peternak kepada birokrat tetapi masih diucapkan juga oleh bupati kepada pejabat yang lebih tinggi. Intinya minta bantuan dan bantuan.

Ucapan kedua berupa pernyataan dalam suatu perbincangan dengan aparat tentang permodalan. Wali SASPRI menyatakan bahwa untuk usaha kami ke depan, kami akan pinjam uang di bank saja. Dengan bunga komersial juga tidak masalah sepanjang hitungan bisnisnya masih menguntungkan. Dua ucapan Wali SASPRI tersebut mengindikasikan adanya kemandirian atau adanya rasa percaya diri untuk dapat mandiri dengan kekuatan sendiri. Ucapan tersebut juga secara jelas menunjukkan adanya kedaulatan peternak yang akan membuat komunitas peternak rakyat menjadi penentu bukan ditentukan oleh pihak lain. Selama ini keluguan peternak rakyat dan tercerai berainya komunitas peternak rakyat dimanfaatkan pihak lain untuk dapat mengeruk keuntungan sendiri dari jerih payah para peternak.

Itu hanya dua ucapan yang terlontar dari seorang Wali. Masih ada beberapa ucapan senada terlontar dari para Wali SASPRI yang tersebar di 17 kawasan di 10 kabupaten 6 provinsi. Semua pertanyaan atau pernyataan yang muncul tidak lagi seperti ucapan peternak pada umumnya yang berorientasi minta bantuan, bantuan, dan bantuan. Jadi perubahan pola pikir dan karakter peternak telah terjadi di 17 komunitas SASPRI tersebut. Perubahan itu sangat fundamental dan itu penting untuk meningkatkan kemampuan teknis dan pemahaman bisnis peternak rakyat dalam menjalankan usaha peternakannya.

Melalui proses pembelajaran partisipatif di Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) yang diinisiasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) IPB, perubahan tersebut berawal. Interaksi antara akademisi dan komunitas peternak selama sekitar dua tahun telah mengubah pola berpikir, mental, dan karakter peternak. Mereka tidak mau minta bantuan lagi karena mereka merasa bukan orang kekurangan. Mereka sudah malu untuk minta bantuan tetapi selalu bersemangat untuk mengharapkan kemitraan bisnis dengan berbagai pihak.

Melalui kemitraan, mereka dipaksa untuk terus belajar menguasai iptek karena pemitra selalu menuntut hasil yang maksimal dari kemitraan bisnisnya. Justru paksaan ini yang membuat mereka bersemangat dan selalu ingin dibimbing dan didampingi. Kemitraan dengan para intelektual yang punya hati ini membuat para peternak menjadi lebih paham budaya ilmiah dalam beternak. Bukan hanya sekedar beternak mengikuti budaya alamiah dari nenek moyanya secara turun temurun. Memang perubahan tersebut masih terjadi di 17 kawasan yang belum menembus angka ribuan peternak. Jumlah yang masih sedikit dibandingkan jumlah peternak rakyat di Indonesia yang mencapai 4 juta lebih itu.

Perubahan akibat pembelajaran di SPR harus dijaga dan dipertahankan agar pemikiran para peternak terus berkembang lagi ke depannya. Untuk itu, para peternak alumni SPR masih perlu ditemani, didampingi, disemangati, dibuka jaringannya, dan diarahkan dalam perkumpulan SASPRI. Kumpulan ini di tingkat nasional berisi orang-orang berlatar belakang akademisi, pegiat sosial, peneliti, profesional, pengusaha, ilmuwan, birokrat, dan tokoh agama. Selain menjadi pendamping dan penerus lidah peternak rakyat ke pemerintah maupun ke pemangku kepentingan lainnya, tugas terpenting dari pengurus SASPRI-Nasional adalah melakukan sertifikasi kepada pengurus SASPRI-Kawasan.

Instrumen untuk melakukan sertifikasi sudah disiapkan yang aspeknya mencakup (i) perangkat manajemen, (ii) kepemilikan aset/sumberdaya, (iii) aktivitas bisnis, (iv) kinerja bisnis, dan (v) akuntabilitas. Mekanisme pemberian sertifikat dilakukan secara berjenjang dan dilakukan maksimum setiap dua tahun. Ini diawali dengan pemberian sertifikat bintang satu yang disebut sertifikat Natalia. Ini diberikan pada saat komunitas peternak di”wisuda” dari program SPR. Dua tahun kemudian, SASPRI-Kawasan ini dinilai lagi dan jika memenuhi kriteria yang ada diganjar dengan sertifikat bintang dua (Weania), kemudian bintang tiga (Prematura), dan bintang empat (Matura). Jadi sedikitnya diperlukan waktu pendampingan 6 tahun setelah dinyatakan lulus dari SPR.

Sertifikasi dilakukan melalui tiga langkah secara berurutan: (i) self-assessment (penilaian mandiri). Di sini, pengurus SASPRI-Kawasan diminta menilai diri sendiri dengan mengisi formulir yang setiap isian harus disertai bukti/evidence. Ini dilakukan secara serempak oleh pengurus SASPRI-K yang dinilai. (ii) peer-assessment (penilaian teman sebaya). Maksudnya bahwa hasil penilaian mandiri tadi dinilai lagi oleh pengurus SASPRI dari kawasan lainnya. dan (iii) expert assessment (penilaian oleh ahli). Hasil penilaian mandiri dan hasil penilaian teman sebaya tersebut diverifikasi oleh para ahli untuk menentukan status peringkatnya. Jika SASPRI-K telah mencapai peringkat bintang 4 (Matura), komunitas peternak rakyat tersebut diharapkan sudah benar-benar mandiri dan dilepas untuk berkembang sendiri secara profesional dalam menjalankan usaha kolektif berjamaah baik untuk komoditas peternakan maupun komoditas pertanian lainnya.

Bersama, bersinergi, dan berkolaborasi menjadi landasan untuk berubah, berbenah, dan berkembang. Selamat belajar para peternak, berkarya, dan jangan lupa beribadah. Sehat selalu dan jangan pernah lupa untuk bahagia.

Muladno
Guru Besar IPB. Anggota AIPI. Wali Utama SASPRI. Penasehat YAPPI
Artikel ini pernah dimuat di Majalah Trobos

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *