Rekonstruksi Kompetensi Mahasiswa Peternakan untuk Menghadapi Dunia Pasca Kampus

Sajian ini menguraikan cara mahasiswa menyiapkan diri untuk menatap masa depan. Khususnya sesudah mengikuti proses kehidupan kampus. Ia ditulis mengikuti alur kronologis – menurut urutan waktu. Topik bermuara pada rekonstruksi atau merajut masa depan. Pertama, mengenai waktu itu sendiri. Kedua, tentang kampus, yang (ketiga) tengah menghadapi kondisi new normal. Keempat, disrupsi – baik lantaran teknologi yang dipercepat oleh covid-19 – atau karena (kelima) a-symetric information. Keenam, stolen future, keadaan yang menuntut para mahasiswa untuk (ketujuh) matang. Semuanya merupakan komponen merekonstruksi kompetensi mahasiswa menghadapi dunia kerja. Simak kerangka pemikirannya pada Gambar 1.

Gambar 1. Kerangka pemikiran rekonstruksi kompetensi mahasiswa pasca kampus

*) Bahan khusus untuk kuliah umum mahasiswa yang diselenggarakan oleh HIMAPET Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang 01 Maret 2021.

1. WAKTU

Time is nothing, except the sequence of event, begitulah satu pengertian waktu. Tiada yang namanya ‘waktu’, kecuali deretan kejadian. Kian banyak terjadi peristiwa, maka semakin produktif dan efektif. Seperti itu, waktu – salah satunya – dipahami dan pakai. Tentu ada yang mengatakan waktu adalah ‘uang’ atau ‘pedang’. Celakanya watak waktu, aneh. Suka atau tidak, dipakai atau tidak, sang waktu tetap berlalu. Surut, tidak berlaku bagi waktu. Ia pasti berjalan secara kronologis menatap masa depan, tanpa halangan. Jadi ini karakter sumber daya waktu dalam kehidupan.

Setiap orang mempunyai waktu yang sama jumlahnya, 24 jam sehari. Tidak lebih dan tidak kurang. Orang ekonomi menyebutnya, indeks gini sumberdaya waktu adalah nol (0). Sebab, merata bagi semua manusia, ia mendapatkan jumlah yang serupa. Soalnya, kenapa masih ada orang yang bilang, ‘aku kekurangan waktu’.

Manajemen waktu, itulah masalahnya. Jika memang kekurangan waktu melakukan sesuatu; maka minta, pinjam atau sewa waktu dari orang lain. Bila tidak piawai mengelola waktu, ia justru menjadi bumerang. Oo..kenapa tidak sedari dulu, ucapan itu yang acap keluar, sambil menggerutu.

Benar, menyesal, dalam dimensi waktu, sering kali datang belakangan. Sekiranya menyesal muncul di awal, namanya sadar untuk menyusun perencanaan, bukan ?. Caranya ?. Tengok acara berbuka puasa bersama. Kenapa jarang peserta datang yang tidak tepat waktu ?.

Begitu esensilnya, waktu, malahan, Tuhan sampai bersumpah dan mengalokasikan surat tentang waktu (Q;103). Demi masa/waktu. Sungguh, manusia dalam kerugian. Kecuali mereka yang ‘beriman’, dan melakukan ‘amal kebaikan’, saling menasehati supaya mengikuti ‘kebenaran’, dan saling menasehati supaya mengamalkan ‘kesabaran’. Jadi, ada empat kata kunci agar waktu tidak percuma dan berlalu; beriman, amalan kebaikan, kebenaran dan kesabaran.

2. KAMPUS

Kampus biasanya melibatkan institusi perguruan tinggi. Termasuk seluruh informasi dan fasilitas untuk proses pembelajaran. Kini kampus tengah menghadapi tantangan berbeda. Selain covid-19 yang merombak total hubungan interaksi dari komponen pembelajaran, dua isu yang perlu dicermati; kampus merdeka dan belajar sejarah. Untuk tiga hal itu (belajar, merdeka dan sejarah) kita teringat dengan angku Muhammad Sjafei dari INS Kayutanam atau pendeta Paulo Freire dari Brazil.

Secara isi, ingatan khusus tertuju kepada visi lebih luas, berpikir kritis dan proses pendidikan menjadi lebih manusiawi. Ketika pendekatan laba rugi mengemuka, kampus cenderung dikelola meninggalkan kepentingan umum dan menjadi fokus memenuhi kebutuhan pribadi. Kampus kini berorientasi untuk meningkatkan skill, pengetahuan dan kecakapan mengisi lapangan kerja yang memenangi kompetisi ekonomi. Dimensi berpikir kritis, refleksi diri, analitis, antisipatif, dan pendekatan sistem tergerus, termasuk dengan terpaan arus media.

Padahal bagi Freire, kampus merupakan bagian dari aktivitas untuk pembebasan/ merdeka, termasuk dalam arti kebijakan. Yang tentu saja, belajar mesti mengenal kronologi sejarah. Oleh karena mahasiswa difasilitasi untuk mampu merefleksi diri, mengendalikan kehidupan dan gagasan kritis. Aronowitz (2009) menyebut bahwa literasi semacam itu membutuhkan tiga hal. Pertama, refleksi diri yang menyadari arti kehadiran di tengah kehidupan dunia, dengan beragam dimensi seperti ekonomi, psikologi, politik dan ‘kesamaan’ posisi /konsep diri. Kedua, aspek aspek yang mengatur kehidupan dan membentuk kesadaran pada lingkungan. Ketiga, kondisi kehidupan dimana kekuasaan bakal berpindah pada pengambil inisiatif.

Dengan begitu, mahasiswa kampus diharapkan menjadi lebih sadar, berdaya dan mampu membuka peluang melalui berpikir kritis. Jelasnya di luar kebiasaan yang ada. Tidak sekedar mengutip masa lalu (copy paste) dan (tidak pula) memahami tugas tugasnya. Salah satunya terindikasi ketika (semakin sulitnya) proses menemukan topik dari penelitian atau tugas akhir.

3. NEW NORMAL: SEKTOR PANGAN

Badan POM Indonesia (2020) dalam booklet ‘new normal’ untuk covid-19 menyebutkan dua hal; (1) pastikan MENJAGA KEBERSIHAN dan (2) MENJAGA JARAK atau physical distancing. Beraneka cara disajikan guna menjamin keadaan (badan, alat dan fasilitas serta lingkungan) tetap bersih. Begitu pula untuk memastikan jarak agar tidak terjangkau oleh semburan virus yang menyebar dari para pembawa/ carriers.

Sektor pangan (pertanian, peternakan dan perikanan) terpengaruh dalam sejumlah tindakan, seperti produksi, pengolahan, distribusi, akses dan konsumsi. Semua ini akibat pengaruh lock-down/ psbb. Gerak manusia berkurang, transportasi berganti corak dan terbatas, konsumsi menurun. Intinya globalisasi cenderung untuk terhenti. Nasionalisme dan penggunaan produk pangan lokal meningkat.

FAO (2020) menyebutkan beberapa pengaruh covid-19 terhadap pangan. Fokusnya berada pada ranah ketersediaan, akses dan kemampuan mendapatkan pangan yang sehat bagi penduduk tidak berkecukupan. Kemudian, aspek produksi, distribusi, konsumsi, fungsi pasar, lembaga penyedia dan aturan terkait. Hal hal yang perlu ialah, kesempatan merajut interaksi produksi dengan konsumsi melalui proses distribusi yang baru.

Maka, perlu kolaborasi institusi yang menjembatani antara produsen dengan konsumen. Kemudian, konsumen lebih kreatif merajut kombinasi jenis pangan lokal /tempatan untuk keamanan pangan dan tetap bertahan.  Berikutnya, kebijakan untuk mengoptimalkan jejaring pengaman sosial dan mengefisienkan akses serta distribusi bahan pangan. Akhirnya, faktor pendukung, jejaring komunikasi, akses transportasi, relawan dan keuangan.

Oleh sebab itu, seperti pengalaman Cina, daerah pertama terkena corona, beberapa hal dalam new normal adalah. Pertama, perlu kolaborasi institusi pengelola dan pelaku bahan pangan yang terkoordinasi dari berbagai tingkatan. Intinya mengerucut kepada kerjasama yang tuntas dan jitu mengatasi masalah pangan.

Kedua, diversifikasi saluran distribusi pangan untuk memastikan setiap orang meraih pangan pada waktu, tempat, jumlah dan takaran yang tepat. Terbina satu sistem ketahanan pangan yang memadai.

Ketiga, mendorong produksi pangan tempatan/ lokal dan menguatkan jejaring yang memperkuat daya tahan dan keamanan pangan. Hal ini dilakukan melalui sikap pro-aktif, inovatif dan mampu mengatasi masalah.

Fakta lapangan masyarakat kita juga memberi bukti beberapa hal berikut. Pertama, keluarga yang tidak memiliki kredit (entah apa saja jenis barangnya) lebih tahan ketika pandemi ini. Mereka lebih leluasa meng-re-alokasi pengeluaran rumah tangga. Kedua, dengan psbb dan gerai pangan produksi luar negeri tertutup, maka, terjadi diversifikasi sumber pangan kepada produksi lokal. Kondisi new normal mestinya komit melanjutkan kecenderungan ini. Ketiga, adanya pengurangan aktivitas ekonomi dan penurunan konsumsi pada satu sisi, menghemat dan memperlambat eksploitasi sumberdaya alam lingkungan. Ini amat berguna bagi keberlanjutan sumberdaya pendukung untuk produksi pangan.

4. DISRUPSI

Padi salibu, atah, malukuik, alu, nyiru, lasuang, indiak-an, kili-kili merupakan istilah yang sudah mulai punah. Kalangan muda umumnya kurang mengenali arti kata itu. Oleh karena jarang digunakan. Lenyapnya kosa kata tersebut seiring dengan era ‘job disruption’ atau tidak berlanjutnya pekerjaan lantaran imbas inovasi teknologi. Arti disrupsi sendiri ialah, make it difficult to continue in normal way/ ia sulit berlanjut dalam kondisi biasa.

Teknologi dan pekerjaan yang berangsur pudur antara lain adalah pedati, bendi, mesin ketik, tukang foto, tukang pos, wartel, dll. Disrupsi merupakan suatu keniscayaan. Ia berlangsung terus menerus, sejalan dengan perkembangan dan aplikasi bio-teknologi. Pengaruh pada kelembagaan, aturan dan institusi juga terjadi. Teknologi terasa mengubah proses interaksi antara individu dalam masyarakat. Simak, selfi, buah dari teknologi fotografi dan komunikasi. Perhatikan pula proses mendaftar ke perguruan tinggi. Cukup diinput sendiri, tanpa harus pergi langsung ke lokasi, seperti dulu.

Soalnya ialah, bagaimana menyikapi inovasi teknologi dalam kaitan dengan disrupsi. Apalagi ada istilah ‘change and continuity’. Perubahan, memang harus berjalan, tapi ada yang mesti tidak boleh berubah, bukan ?. Lebih dari pada itu, apa persiapan kecakapan yang perlu agar mampu mengantisipasi disrupsi ?. Sebab, bisa saja yang dipelajari hari ini, tidak lagi berguna, beberapa saat ke muka.

Watak teknologi ialah, ia bekerja lebih tepat, cepat dan amat mekanik. Inilah yang mengganti keterampilan manusia. Celakanya, jumlah penduduk bertambah, sedang disrupsi terjadi. Maka, bukankah yang perlu adalah proses berpikir kreatif, bersikap pro-aktif, dan antisipatif ?. Selanjutnya, semangat menggebu, peduli yang sepenuh hati. Semua ini, perlu menelusuri proses mengakses, update dan mengolah data. Kemudian mendalami yang perlu saja (deep learning). Lalu, menggunakannya untuk menatap masa depan kita.

5. A-SYMETRIC INFORMATION

Information asymetry (IA) artinya ialah informasi yang tidak merata. Setidaknya bagi dua pihak; penjual dan pembeli. Oleh karena itu, proses transaksi berlangsung dengan kekurangan data tentang objek perkara. Kondisi ini kerap membuka peluang bagi kegagalan pasar. Bentuknya berupa pilihan yang rumit/ terpaksa membeli, cacat moral dan monopoli pengetahuan. Kasus penjualan mobil bekas dan asuransi sering menjadi model untuk penjelasan tentang IA ini.

Adalah peraih hadiah nobel bidang ekonomi seperti George Akerlof, Michael Spence dan Joseph Stiglizt yang menganalisa prilaku terkait IA, sejak tahun 1970an. Meski bertolak belakang dengan satu asumsi kunci dari ekonomi neo-klasik – yang justru berlandaskan pada symetric information/ informasi merata. Hal ini yang menggerek peran ilmu sosial dalam aktivitas ekonomi, semakin tinggi.

Kecenderungan semacam ini kian melibatkan pertimbangan dimensi non ekonomi di tengah dominasi percaturan pikiran ‘rational choice’. Intinya informasi tidak seimbang antara pembeli dan penjual membawa pada in-efisiensi untuk pasar tertentu. Dalam kaitan itu, Robert Murphy memandang perlu adanya peran pemerintah menghindari kegagalan pasar. Khususnya saat pengambilan keputusan tentang penetapan tarif/ harga. Seperti pertimbangan usia, jenis kelamin atau kronologis sejarah satu barang.

Petani dan peternak seringkali menghadapi dilema IA dalam proses transaksi produk mereka. Malahan, IA juga menyebabkan keterbatasan peluang, meski big data tetap tersedia melalui akses media. Oleh karena itu, petani peternak membutuhkan proses fasilitasi deep learning untuk memaknai berbagai informasi. Sekaligus mengurangi kesenjangan informasi antara para pihak terkait. Yang bermuara pada adanya celah dan kesempatan aktivitas ekonomi baru.

Melalui undang undang nomor 16/2006 tentang penyuluhan, maka petani peternak punya opsi. Tersedia tiga pilihan untuk memastikan ada bantuan mengatasi IA; pemerintah, swasta dan asosiasi petani peternak itu sendiri. Pertanyaannya ialah, apakah opsi itu berfungsi sesuai dengan harapan ?. Bukankah ketua kelompok, asosiasi, kepala daerah dan negara bisa terkena IA ?.

6. STOLEN FUTURE

Buku tentang endokrin yang memuat istilah ‘stolen future’ diberi kata pengantar oleh Al Gore. Ia pernah menjadi wakil presiden USA yang peduli dengan pembangunan berkelanjutan dan konservasi alam lingkungan. Kenapa istilah stolen future itu terungkap lagi ? Sebab, dampak covid-19 mencemaskan ‘pencurian terhadap masa depan’, berupa kehilangan kesempatan kerja. Padahal kita ingin agar masa depan berkelanjutan, demi generasi penerus, bukan ? Bagaimana pengaruh covid-19 terhadap pendidikan, khususnya peluang kerja bagi lulusan perguruan tinggi ?.

Pendidikan di perguruan tinggi jelas terdampak lantaran covid-19. Proses belajar dan mengajar berjalan menggunakan teknologi informasi. Sedikit sekali tatap muka langsung. Hal ini mengurangi ruang untuk membina pembentukan watak/ character building. Pada gilirannya ia melemahkan pembenahan kehidupan dan kepedulian buat masyarakat. Khususnya melalui kendala proses non-verbal communication. Fokus perhatian lebih tertuju pada penguatan kapasitas ranah pengetahuan.

Covid-19 juga menyusutkan pertumbuhan ekonomi menjadi minus. Artinya angka pengangguran meningkat. Peluang kerja semakin sedikit, di tengah pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja. Termasuk yang lulusan dari perguruan tinggi. Meski beberapa sektor tetap bisa menyerap tenaga kerja seperti bidang kesehatan, pangan dan kuliner, jasa angkutan barang dan pendidikan itu sendiri.

Hanya saja pendidikan membutuhkan transformasi agar cocok dengan kebutuhan. Beberapa pendapat dari sejumlah mahasiswa berbagai belahan dunia menyatakan dua gagasan antisipasi. Pertama, perbaikan kemampuan dalam berkomunikasi, membina jejaringan kerja dan cakap menggunakan teknologi informasi. Kedua, sikap belajar yang tidak lagi menghafal, melainkan memahami dan pro-aktif. Pola pikir untuk menopang di atas adalah ‘membandingkan dan kreatif’/ compare and contrast. Maka, salah satu upaya untuk menggaet kecakapan semacam itu melalui ‘magang’. Ia menggabungkan pembenahan ‘pengetahuan, kemauan dan kemampuan’. Agar masa depan tidak lagi dicuri, dan kita bisa menyiapkan diri untuk mengantisipasi.

7. MATANG

Minggu minggu ini ada proses berbeda dalam pembelajaran. Jelas tersebab, upaya antisipasi pencegahan penyebaran covid-19. Mulai dari awaliyah, tsanawiyah dan aliyah sampai kepada kuliah. Belajar berlangsung di rumah. Pada sisi guru, dosen dan tenaga pengajar berproses ‘belajar’ untuk menggunakan media online. Mereka perlu menyiapkan bahan tanpa tatap muka. Beban, inisiatif dan tanggung jawab mengelola proses belajar cenderung menurun. Ada sisi penilaian baru untuk mencermati kebutuhan ‘pelajar’ sesuai dengan tuntutan kondisi keluarga dan fasilitas rumah mereka. Tentu, hal ini membutuhkan fakta lapangan.

Sebaliknya dari kalangan ‘pelajar dan mahasiswa’ terjadi perubahan drastis pada lingkungan belajar. Tidak ada lagi guru dan dosen ‘yang langsung’ bertatap muka. Jarak lokasi menjauh. Mimik wajah, gerak tubuh, bahasa non-verbal lenyap. Hal ini membuka ruang leluasa bagi mereka. Extrinsic motivation menurun, malah nyaris terbatas. Mestinya intrinsic motivation atau semacam kesadaran belajar meningkat.

Soalnya ialah, apakah memang terjadi transformasi semacam itu pada kedua subjek belajar – dosen dan guru versus mahasiswa dan pelajar ?. Oleh karena, kerap terjadi kelembaman/daya tahan untuk tidak berubah ketimbang ‘cepat menyesuaikan diri’. Sesuai dengan prinsip andragogy – pendidikan orang dewasa – suasana seperti hari hari ini perlu mencermati empat kategori.

Pertama, persiapan untuk belajar. Kedua subjek belajar mesti sama sama siap untuk memulai proses. Termasuk menguasai isi dan substansi. Suatu yang jauh berbeda dari sebelumnya. Kedua, sumber belajar. Jika sebelumnya dosen dan guru cenderung memonopoli bahan belajar, kini berbagai sumber bisa diakses. Banyak berseliweran sumber informasi. Termasuk dari pengalaman sendiri yang berlainan. Ini menjadikan sumber pembelajaran semakin kaya. Tersedia lebih banyak ‘big data’ yang perlu proses ‘deep learning’.

Ketiga, tujuan atau orientasi belajar. Jika sebelumnya guru dan dosen ‘aktif memberi’ dan pelajar serta mahasiswa ‘pasif/menerima’, kini keduanya lebih aktif mencari untuk menguasainya. Kedua pihak perlu pro-aktif. Kini keputusan tentang isi pembelajaran lebih berada dalam tangan pelajar. Keempat, perubahan konsep diri dalam belajar. Apakah memang telah menjadikan pelajar dan mahasiswa semakin berstatus setara sebagai manusia ?. Betulkah suasana belajar baru mulai mampu mengalihkan inisiatif, beban, tanggung jawab, orientasi, dan kesadaran subjek belajar ?. Jika sudah, tentu proses belajar di rumah, kian menjadikan pelajar dan mahasiswa lebih ‘matang’. 

Disiapkan oleh:  Dr. Ir. Fuad Madarisa, MSc.
Sekretaris Pengurus Wilayah ISPI Sumatera Barat 2020-2024 dan Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *