Stok Protein Asal Ternak Jelang Natal dan Tahun Baru, ISPI Bisa Apa?

Sudah menjadi semacam siklus bahwa setiap akhir tahun, menjelang natal dan tahun baru, harga bahan makanan kompak naik. Tidak mau ketinggalan, bahan pangan sumber protein asal ternak yaitu daging dan telur ikut melonjak dari yang sebelumnya sempat sangat rendah.

Menyikapi hal tersebut, Pengurus Besar Perkumpulan Insinyur dan Sarjana Peternakan Indonesia (PB-ISPI) mengadakan acara bertajuk #ISPIMenyapa dengan mengangkat tema “Stok Protein Asal Ternak Jelang Natal dan Tahun Baru, ISPI Bisa Apa?”. Kegiatan dilaksanakan melalui live streaming Youtube ISPI TV (https://youtu.be/_r9mPenwjBU) pada Rabu (15/12/21) dan dipandu oleh Staf Ahli Majalah Poultry Indonesia, Joko Susilo, S.Pt.

PB-ISPI merupakan organisasi yang menjadi rumah besar bagi Insinyur dan Sarjana Peternakan. Ketua PB-ISPI, Ir. Didiek Purwanto, IPU yang menjadi narasumber menyampaikan bahwa saat ini sudah ada 147 perguruan tinggi yang menyelenggarakan Pendidikan Peternakan, baik itu D3, Sarjana maupun Sarjana Terapan yang telah meluluskan setidaknya 40 ribu Sarjana Peternakan. Berdasarkan potensi itu, sudah seyogyanya menjadi bagian dari solusi untuk menyikapi kondisi stok bahan pangan asal ternak sehingga turut mengendalikan harga.

Didiek mengatakan bahwa stok protein hewani jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) tergolong aman kecuali Susu. “Untuk stok sapi saya kira sampai di Natal dan Tahun Baru tidak ada persoalan karena sapi lokal juga banyak. Kalau daging ayam dilihat dari produksinya justru lebih dibandingkan dengan kebutuhan, meskipun berdasarkan susenas masih ada 36% rumah tangga yang belum mengakses produk broiler. Kalau telur juga lebih dilihat dari produksinya, meskipun konsumsinya masih kurang. Susu, ini yang prihatin. Susu yang dipenuhi lokal hanya 22,7%,” terang Didiek.

Mengenai impor daging merah untuk memenuhi kebutuhan, Didiek menganggap bahwa impor ternak hidup masih lebih baik dibandingkan impor daging. “Saya lebih mendorong sapi hidup yang ditingkatkan, karena di situ ada proses produksi yang memberikan multiplier effect. Di sana ada tenaga kerja, transportasi, petani, ada juga industri hilir dan hulu. Kalau daging hanya dibeli dan langsung dijual”, ungkapnya.

Ia menambahkan, impor daging sapi juga bisa menjadi kontraproduktif bagi peternak. Menurutnya, program SIWAB dan SIKOMANDAN merupakan program yang sangat bagus untuk meningkatkan populasi. Namun, jika dihadapkan dengan impor daging yang harganya murah, daging sapi produk peternak justru tidak bisa sustain.

Overstock Produksi Daging Broiler

Stok daging broiler dalam kondisi berlebih, sayangnya penyebab stok berlebih ini justru karena kurang terserapnya produk pada masyarakat.

“Berdasarkan hasil SUSENAS ada 36% rumah tangga yang belum bisa mengakses produk broiler, sementara overstock terus berlanjut. Dengan demikian subsidi harga dapat dilakukan agar bisa diserap,” ungkap Didiek.

Didiek melanjutkan, ISPI sudah memberikan masukan tentang kebijakan atau adanya SE mengenai Cutting HE, penyesuaian setting HE dan afkir dini PS kepada pemerintah.

“Ini bukan solusi satu satunya. Harus ada jalan keluar yang lebih memberikan solusi lebih baik. Karena kalau ini terus dilakukan akan menyebabkan pemborosan dari input sumber daya produksi, bertentangan dengan KESRAWAN dan yang luar biasa lagi ini bisa berdampak pada peluang untuk menurunkan HPP,” paparnya.

Menutup pembahasannya, Didiek merasa bahwa Kerbau di Indonesia harus mendapatkan perhatian yang intens untuk dikembangkan. Hal ini berkaitan dengan adanya impor daging kerbau dari India yang sebenarnya Indonesia memiliki potensi besar pada pengembangan kerbau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.