USAHA PEMBIAKAN SAPI BRAHMAN CROSS (BX)

GAMBARAN BISNIS PEMBIAKAN SAPI KOMERSIAL MODEL TEBANG ANGKUT (CUT AND CARRY) DENGAN 20 EKOR SAPI INDUKAN BUNTING SELAMA 5 TAHUN

Penulis: Joko Susilo, Dr Tri Satya Mastuti Widi,SPt MSc (dosen Fapet UGM) – Editor: Tim IACCB

Pengantar

Joko Susilo (Sekjen ISPI)

Permasalahan pemenuhan kebutuhan daging merah (sapi / kerbau) di Indonesia hingga saat ini belum dapat diselesaikan secara konkret. Peningkatan kebutuhan daging yang linear dengan pertumbuhan penduduknya, belum dapat diimbangi dengan produksi daging sapi / kerbau dalam negeri yang hanya mencapai kurang dari 60% dari kebutuhan. Lebih dari 40% populasi sapi potong berada di Pulau Jawa sehingga menjadikan Jawa sebagai wilayah produksi sekaligus konsumsi daging sapi terbesar di Indonesia, yaitu mencapai 56,25%. Produksi sapi potong di Jawa sebagian besar ada di tangan peternak rakyat dengan skala kepemilikan kecil dengan tujuan beternak beragam yaitu sebagai tabungan, tambahan pendapatan, penghasil pupuk kandang, tenaga kerja, status sosial, dan fungsi budaya. Pola pemeliharaan yang dilakukan peternak rakyat pada umumnya minimalis saja, sepanjang keberadaan ternak tersebut telah memenuhi ekspektasi peternak yaitu memiliki fungsi yang beragam tersebut. Hal ini menjadikan gap yang sangat lebar dengan tujuan pemerintah ingin memenuhi kebutuhan daging nasional.

Untuk meningkatkan pemenuhan daging nasional, maka tujuan peternak rakyat harus diselaraskan dengan tujuan pemerintah. Skala pemeliharaan ternak perlu ditingkatkan hingga jumlah yang memberikan keuntungan significant. Dengan skala kepemilikan / pemeliharaan bertambah maka peternak harus fokus dan mencurahkan waktunya penuh untuk usaha beternak. Pada sistem intensif tebang angkut biaya pakan akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan sistem integrasi sapi kelapa sawit (SISKA) atau digembalakan di lahan terbuka (open grazing), maka perlu diperhatikan efisiensi pakan dengan mencari sumber alternatif pakan yang relatif murah tetapi berkualitas cukup baik dan strategi mengkombinasikan pakan dari sumber lokal. Apabila mampu mengelola dengan baik, sistem intensif tebang angkut ini mempunyai beberapa keunggulan dibanding sistem ekstensif di antaranya kontrol yang lebih baik sehingga dapat dicapai tingkat kebuntingan, kelahiran dan penyapihan lebih tinggi, dan angka kematian pedet lebih rendah.

Tulisan ini memaparkan bagaimana gambaran perhitungan pembiakan sapi Brahman cross (BX) pada sistem tebang angkut (cut and carry) dengan 20 ekor sapi indukan bunting dan seekor pejantan selama 5 tahun dengan asumsi bahwa ternak sapi dikelola secara profesional melalui pendekatan yang komersial. Selain itu dalam perhitungan bisnis pembiakan ini motode perkawinan yang dilakukan adalah dengen mengunakan sistem kawin alami. Pejantan secara intensif dikandangkan bersama betina.

Penerapan usaha pembiakan sapi Brahman Cross (BX) yang dimulai dengan 20 ekor sapi Indukan Bunting dan 1 ekor Pejantan dengan model Tebang Angkut membutuhkan modal investasi awal sejumlah Rp.529.500.000,-. Pada tahun ketiga, usaha ini diproyeksikan sudah memperoleh arus kas positif. Anakan sapi dipelihara sampai umur 2 tahun. Selama tiga tahun pertama beroperasi tersebut, modal investasi tambahan yang dikeluarkan adalah Rp. 84.400.000,- dan modal kerja sejumlah Rp.496.419.460,- . Total modal yang dibutuhkan sebelum mencapai arus kas positif adalah sejumlah Rp. 859.565.440,-. Dengan memperhitungkan nilai stok akhir ternak, Tingkat Pengembalian Investasi (ROI) yang Anda dapatkan pada tahun kelima diproyeksikan mencapai 2,5% dengan akumulasi kas surplus sebesar Rp.13.262.632,- ditambah dengan nilai residu dari infrastruktur Rp.43.500.000,-.

Sumber video: IAredmeatcattle

Ringkasan Investasi

Kebutuhan Modal Investasi Awal

Kebutuhan modal investasi awal yang diperlukan berjumlah sekitar Rp. 529, 5 juta, dengan rincian sebagai berikut:

  • 20 (duapuluh) ekor sapi Indukan bunting ± 6 (enam) bulan dengan bobot sekitar 420 kg/ekor 1 (satu) ekor sapi Pejantan berbobot 450 kg
  • Biaya pembuatan kandang 200 m2 x Rp. 200.000,-/m2, termasuk kandang utama dengan luasan 6m2/ekor indukan, kandang penanganan/melahirkan dan loading/unloading ramp
  • Biaya pembuatan gudang pakan seluas 25 m2 x Rp. 200.000,-/m2
  • Pembelian 1 (satu) unit kendaraan roda tiga merek lokal untuk mengangkut pakan, kotoran ternak ataupun keperluan lain
  • Pembelian 1 (satu) set perlengkapan dan peralatan peternakan terdiri dari kandang jepit dan timbangan digital buatan lokal, ember, sekop dan peralatan lainnya serta instalasi listrik/air atau sumur.

Biaya Operasional Tahunan

Diperkirakan biaya operasional yang dikeluarkan pada tahun pertama adalah sebesar Rp.36 juta dan dari jumlah ini diasumsikan terdapat kenaikan 3% setiap tahunnya.

Biaya operasional tahunan terdiri dari:

  1. Biaya kesehatan ternak: pembelian obat-obatan dan jasa kesehatan
  2. Biaya tenaga kerja untuk 1 orang pekerja kandang
  3. Biaya overhead untuk perbaikan/pemeliharaan kandang, utilitas kandang, administrasi, komunikasi, operasional kendaraan dan biaya lainnya

Biaya Operasional Harian

Biaya operasional harian terdiri dari biaya pemberian pakan untuk sapi Indukan dan sapi Anakan, yang terdiri dari pakan hijauan, pakan konsentrat dan suplementasi mineral. Rinciannya adalah sebagai berikut:

  1. Rata-rata biaya pemberian (intake) pakan untuk sapi Indukan adalah Rp.11.350/ekor/hari.
  2. Rata-rata biaya pemberian (intake) pakan untuk sapi Anakan setelah sapih adalah Rp.6.500/ekor/hari.
  3. Biaya pakan hijauan sebesar Rp.150/kg merupakan estimasi biaya produksi rata-rata.
  4. Asumsi kenaikan biaya pakan adalah 0,5% setiap tahunnya
  5. Untuk memenuhi kebutuhan produksi pakan hijauan, luas lahan tanam yang diperlukan berkisar antara 4-6 hektar

Alur Simulasi Proses Pembiakan

Sapi Indukan dibeli dalam kondisi bunting 6 (enam) bulan

  1. Masa menyusui hingga sapih berlangsung selama 4 (empat) bulan, bobot saat sapih 100 (seratus) kg
  2. Jarak selang beranak antara kelahiran anak ke-1 dan anak ke-2 adalah 15 (lima belas) bulan sehingga pada tahun ke-5 tidak ada Anakan yang dilahirkan
  3. Dalam 6 (enam) bulan setelah beranak yang pertama dan seterusnya, sapi Indukan yang tidak bunting kembali akan dijual dan segera diganti dengan pembelian sapi Indukan bunting, sehingga jumlah sapi Indukan yang dipelihara tetap 20 (dua puluh) ekor
  4. Semua sapi Anakan dijual pada usia 24 (dua puluh empat) bulan

Analisa Proyeksi Arus Kas Usaha Pembiakan

Pendapatan berasal dari:

  1. penjualan seluruh Anakan Jantan dan Betina yang berusia 24 bulan
  2. penjualan sapi Indukan yang di afkir

Berdasarkan analisa, arus kas positif dapat dicapai pada tahun ke-3 dan pengembalian modal dapat diperoleh di tahun ke-5. Pembelian sapi Indukan yang bunting mempercepat arus kas positif. Dengan memperhitungkan nilai terminal stok akhir ternak, IRR (Internal Rate of Return) di tahun ke-5 mencapai 0,38% dan ROI (Return on Investment) 2,5%

Seluruh sapi Indukan melahirkan 20 (dua puluh) ekor Anakan per tahun. Asumsi jenis kelamin yang dilahirkan adalah 50% (lima puluh persen) Jantan dan 50% (lima puluh persen) Betina

  1. Dari semua Anakan yang berhasil dilahirkan, diasumsikan tingkat kematian sapi Anakan per tahunnya 2 (dua) ekor, seekor Jantan dan seekor Betina.
  2. Sapi Anakan dijual di usia 24 (dua puluh empat) bulan dan penjualan dimulai di tahun ke-3.
  3. Sapi Pejantan diasumsikan sudah tidak produktif pada tahun ke-6. Di tahun ke-6 tersebut, sapi Pejantan afkir dijual dan langsung diganti dengan membeli sapi Pejantan produktif
  4. Jumlah total penjualan ternak selama sepuluh tahun adalah 126 (seratus dua puluh enam) ekor Anakan dengan bobot rata-rata 369 kg10, 16 (enam belas) ekor indukan afkir dengan bobot ratarata 450 kg dan 1 (satu) ekor pejantan afkir berbobot kira-kira 500 kg
  5. Stok akhir ternak di tahun ke-10 berjumlah 39 (tiga puluh sembilan) ekor.

Risiko Usaha Pembiakan Sapi BX

Agar usaha pembiakan dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan, Peternak disarankan selalu memperhatikan dan menjaga parameter kinerja produktivitas ternak antara lain:

BCS (Body Condition Score – Skor Kondisi Tubuh) sapi Indukan selalu dijaga agar tetap dalam kondisi ideal yaitu ≥ 3. BCS yang tidak ideal dapat mempengaruhi kemampuan reproduksi sapi Indukan

ADG (Average Daily Gain – Kenaikan Bobot Harian Rata-rata) sapi Anakan setelah sapih selalu dijaga agar tetap sesuai dengan bobot yang telah direncanakan. Pencapaian ADG yang lebih rendah berpengaruh terhadap bobot akhir saat jual.

Tingkat kematian ternak, termasuk abortus dan still birth. Adanya kejadian abortus dan still birth pada sapi Indukan dapat mempengaruhi jumlah Anakan yang dilahirkan. Kematian sapi Anakan berpengaruh terhadap Anakan yang berhasil dibesarkan dan dijual. Sedangkan kematian Indukan dan Pejantan dapat mempengaruhi jumlah Anakan yang dilahirkan dimana selain itu juga berpotensi menambah biaya pembelian ternak pengganti.

Jumlah sapi Indukan yang kurang produktif dan di afkir. Sapi Indukan yang tidak bunting kembali dalam jangka waktu yang telah ditentukan dan tidak segera di afkir (di jual), dapat berpotensi meningkatkan pengeluaran biaya pakan sapi Indukan. Terlambatnya penggantian sapi Indukan yang kurang produktif dengan pembelian sapi Indukan bunting yang baru juga dapat berpengaruh terhadap lamanya selang beranak dan jumlah sapi Anakan yang diproduksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *