WebMaster Series #4 UNS-ISPI, Ungkap Rahasia Sukses Peternakan Sapi Australia (Tonton Videonya di Sini)

webinar UNS ISPI

Nothern Territory (NT) Australia wilayahnya tandus, jenis rumput tidak banyak , tapi mampu menghasilkan sapi yang mampu menjadikan Australia sebagai eksportir sapi top dunia. Setidaknya ada 4 hal yang membuat NT sukses dalam mengembangkan peternakan sapi dimana hal ini dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia.

Demikian dikemukakan oleh Gulfan Afero, Konsul Jenderal (Konjen) Republik Indonesia-Darwin Australia dalam acara webinar yang diselenggarakan oleh Program Magister Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta bekerjasama dengan Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (PB-ISPI), Rabu, 21 Oktober 2020. Webinar Kuliah Pakar series ke- 4 ini mengangkat tema “Optimalisasi Kerja Sama Indonesia-Australia di Bidang Penelitian dan Perdagangan Komoditas Peternakan.” menghadirkan narasumber Ketua Umum PB ISPI Ir Didiek Purwanto IPU dan Gulfan Afero (Konjen RI – Darwin) dengan moderator Dr. Agr. Sigit Prastowo, S. Pt., M. Si (dosen UNS).

Webinar diikuti sejumlah tenaga pengajar di UNS serta anggota ISPI dari berbagai daerah dan diakhiri dengan penandatanganan kerja sama antara Fakultas Pertanian UNS dengan PB ISPI

Menurut Gulfan, alasan pertama yaitu adanya framework yang jelas mengenai proteksi lingkungan dan biosekuriti . Australia yang memiliki dua level sistem hukum yaitu sistem federal yang berlaku pada seluruh negara bagian serta otoritas yang diberikan kepada wilayah bagian seperti NT dalam mengatur hukum sendiri dan pengambilan kebijakan.

“Termasuk biosekuriti, pembukaan lahan, serta melakukan konservasi jenis rumput yang terbatas itu,” terangnya

Lanjut Gulfan, kedua yaitu terkait dengan penegakan hukum. Artinya penegakan yang tidak pandang bulu terhadap siapapun bahkan denda yang diberikan kepada pelanggar hukumannya sangat luar biasa. Sehingga banyak pengusaha yang takut dan dampaknya kelestarian alam dapat terjaga dengan baik.

Ketiga, tak dapat dipungkiri NT memang memiliki wilayah yang sangat luas. Yaitu dengan luasan berkisar 1,3 juta km2 dengan jumlah penduduk sedikit yang hanya 250 ribu. Wilayah yang luas ini, digunakan untuk industri peternakan sapi bahkan tidak heran jika NT mampu memiliki peternakan sapi dengan luas sekitar 1,6 juta hektar. “Dari kantornya sampai menuju ke tempat pengembalaan sapi bisa memakan waktu 45 menit bahkan sampai ada yang 3 jam,” ujarnya sambil membagi pengalaman di NT.

“Ketika sapi-sapi yang sudah siap untuk diekspor akan digiring ke kandang tertentu. Karena lahannya sangat luas digunakanlah helikopter dalam menggiring sapi kedalam satu titik. Di titik itulah sapi kemudian dinaikkan kedalam truk. Selanjutnya dikirim ke pelabuhan untuk di karantina sebelum diekspor. Jadi dilakukan secara profesional, efisien dan efektif,” paparnya.

Keempat, peranan asosiasi dan pemerintah sangat penting. Di NT terdapat asosiasi yang bernama Northern Territory Cattlemens Association (NTCA) yang memiliki peran sangat dominan dalam melindungi petani/peternak termasuk dalam cara menjual sapi serta mengatur harga sapi. Yang semuanya dibahas di dalam NTCA.

Di samping itu tak kalah penting peran pemerintah yang sangat pro terhadap apa yang dibutuhkan para peternak sapi. Contohnya memberikan bantuan pinjaman modal kepada peternak. “Juga peran lembaga riset yang berkolaborasi dalam mencari solusi terbaik bersama peternak dan asosiasi,” pungkasnya.

Kondisi Indonesia

Sementara itu Ketua Umum PB ISPI Didiek Purwanto, menjelaskan komoditas sapi potong dalam 3 tahun terakhir antara kebutuhan daging sapi dengan produksi sapi di dalam negeri hasilnya selalu minus. Terbukti, di tahun 2020 kebutuhan daging sapi secara nasional 717.150 ton. Sedangkan produksi daging sapi di dalam negeri hanya mampu memenuhi 58 %. Artinya terjadi defisit 294.617 ton daging sapi setara dengan 1,31 juta ekor sapi.

Didiek juga menjelaskan potret peternakan nasional baik sapi, kerbau, unggas dan yang lainnya. Selengkapnya silakan menyimak video rekaman webinar di chanel youtube di awal tulisan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *